Kepindahan ke Bandung memaksa Prima Ardiansyah memulai segalanya dari nol. Ia datang dengan sikap tertutup, jaket kulit hitam yang selalu melekat, dan keinginan sederhana: menjalani hari tanpa banyak bicara atau terlibat terlalu jauh. Tapi sekolah barunya tidak pernah memberi ruang untuk itu.
Sejak hari pertama, beberapa siswa laki-laki di kelasnya langsung menyambut dan menariknya dalam lingkaran mereka. Bagi Prima, perhatian itu terasa asing, namun sulit ia hindari. Di tengah ramainya perkenalan, hanya satu sosok yang tetap tidak mendekat:
Dona Maharani, gadis cardigan pink yang lebih memilih diam di sisi jendela, mengamati tanpa benar-benar ikut masuk ke keramaian. Pembawaannya tenang, jaraknya terukur, dan justru karena itulah ia paling mencuri perhatian.
Awalnya Prima tidak memikirkan apa pun tentangnya, hingga sebuah tugas kelompok membuat ia kewalahan sebagai murid baru. Pada saat itulah Dona datang menolong - singkat, sederhana, namun tulus. Pertolongan kecil itu cukup untuk membuka ruang yang selama ini Prima tutup rapat.
Sejak hari itu, keduanya terlibat dalam hubungan yang tumbuh pelan - bukan karena kebetulan, tetapi karena mereka menemukan kenyamanan yang tidak mereka temukan di tempat lain. Sementara itu, dinamika pertemanan di sekitar mereka.
"PRIMADONA" adalah kisah tentang menemukan tempat di dunia baru, tentang seseorang yang hadir tanpa diminta namun meninggalkan jejak paling dalam, dan tentang dua hati yang saling mendekat bukan karena drama besar, melainkan karena kebaikan kecil yang paling berarti.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang