Garis Waktu yang Diubah oleh Penyesalan
Di kota futuristik Nexaran pada tahun 2046, hidup seorang ilmuwan jenius bernama Arial Lucius Artemis. Dikenal sebagai sosok brilian di bidang fisika temporal, Arial menyimpan luka lama yang tak pernah benar-benar sembuh-sebuah kesalahan di masa mudanya yang terus menghantuinya selama puluhan tahun.
Bagi orang lain, kesalahan itu mungkin tampak sepele. Namun bagi Arial, itu adalah momen yang menghancurkan hubungan terpenting dalam hidupnya: cinta pertamanya, Olivia Edelweis. Rasa penyesalan karena telah menyakiti wanita yang ia cintai menjadi bayang-bayang yang tak pernah pergi, bahkan saat ia mencapai puncak kejeniusannya. Nama Olivia tetap hidup dalam ingatannya, menjadi alasan sekaligus luka yang tak pernah hilang.
Segalanya bermula ketika Arial berusia 22 tahun, di awal masa studi S2 setelah lulus lebih cepat dari kebanyakan orang. Terobsesi pada konsep waktu dan kemungkinan memperbaiki masa lalu, ia mencetuskan ide yang dianggap mustahil-menciptakan mesin waktu. Bagi dunia, itu hanyalah ambisi gila. Namun bagi Arial, itu adalah satu-satunya harapan untuk menebus kesalahan yang membuatnya kehilangan Olivia.
Puluhan tahun ia habiskan untuk mewujudkan mimpi tersebut. Kegagalan, kehilangan, dan pengorbanan besar menjadi harga yang harus dibayar. Hingga akhirnya, di usia 62 tahun, ia berhasil menciptakan sesuatu yang selama ini hanya ada dalam teori-sebuah mesin yang mampu menembus waktu.
Namun ketika kesempatan untuk kembali ke masa lalu terbuka, Arial dihadapkan pada dilema besar. Mengubah satu momen dalam hidupnya bisa berdampak pada seluruh garis waktu. Apakah ia mampu memperbaiki hubungannya dengan Olivia tanpa merusak masa depan? Atau justru usahanya akan menciptakan konsekuensi yang lebih menyakitkan daripada penyesalan itu sendiri?