Tidak semua kebahagiaan datang dari hal-hal besar, namun justru datang dari hal yang paling sederhana.
𝐒𝐚𝐛𝐢𝐧𝐚 𝐁𝐞𝐬𝐭𝐚𝐫𝐢 𝐀𝐳𝐳𝐚𝐡𝐫𝐚.
Seorang gadis kecil berusia sekitar 6 tahun, yang tumbuh dengan dua hal yang selalu tinggal meski bentuknya berubah: 𝐶𝑖𝑛𝑡𝑎 𝑑𝑎𝑛 𝑅𝑖𝑛𝑑𝑢.
Di mata Bina, Ayah adalah sosok pelindung dengan tawa hangatnya. Dan Ibu, adalah rumah penuh cerita cinta dan kasih sayangnya. Tiga jiwa keluarga bak "𝐋𝐞𝐧𝐭𝐞𝐫𝐚 𝐊𝐞𝐜𝐢𝐥 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐏𝐞𝐫𝐧𝐚𝐡 𝐏𝐚𝐝𝐮" yang dahulu menghidupi setiap sudut rumah dengan hangat sinarnya. Namun, lentera pun dapat merekah retak, memecah cahayanya menjadi bias yang berpencar di arah yang berbeda.
Bagi Bina, kenangan bukan sekadar potongan masa lalu. Mereka adalah cahaya kecil yang tetap menyala, bahkan ketika dunia berubah perlahan tanpa permisi.
Ada tawa yang dulu tumbuh sederhana, ada kecil yang pernah merasa begitu aman, ada hari-hari yang nyatanya tak lagi bisa kembali... namun, detaknya masih tinggal di antara hela napas.
Ini bukan tentang kehilangan, bukan pula tentang pertemuan yang sempurna. Ini tentang bagaimana hati belajar menerima, tentang rindu yang menjelma lembut, dan tentang rumah yang kadang harus hadir tanpa bentuk.
Ada hari-hari yang begitu indah sampai kamu berharap waktu berhenti. Dan.. ada hari-hari ketika kamu sadar, bahwa semua itu hanya delusi yang tak bisa didekap lagi.
Lalu, mengapa lentera kecil itu mekar pecah tak berarah? Dan, apa yang sebenarnya tersisa dari perjalanan kecil yang ia ukirkan di kisahnya ini? Mungkinkah hanya gema bayangan lembut dari sesuatu yang tak bisa ia jelaskan?
Mungkin serangkaian pena legam yang tergores menyusun alur cerita ini, akan menyingkap jawabannya.
All Rights Reserved