Lentera Cafe

Lentera Cafe

  • WpView
    Reads 11
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Nov 18, 2025
Di Lentera Café, cinta diseduh seperti kopi: kadang terlalu pahit, kadang terlalu manis, dan seringkali dingin sebelum sempat dihabiskan. Devira tidak pernah tahu kapan hatinya mulai bergetar pada Nevan, cowok pendiam yang hadir dengan senyum tenang dan tatapan yang mampu meruntuhkan dinding paling tebal dalam dirinya. Mereka tumbuh bersama: di antara meja-meja kopi, senja yang menua, dan janji-janji kecil yang terasa abadi. Tapi waktu pelan-pelan mengubah semuanya. Cinta yang dulu sederhana mulai terasa berat. Kehadiran yang dulu menenangkan, kini justru membuatnya ingin pergi. Dan saat Devira sadar bahwa yang ia perjuangkan bukan lagi cinta, melainkan kebiasaan untuk tidak sendirian, ia mulai bertanya : Apakah tetap mencintai berarti tetap bertahan, atau justru berani melepaskan sebelum semuanya pahit sepenuhnya? "Ada cinta yang tumbuh karena kebersamaan, ada juga yang bertahan hanya karena takut kehilangan kebiasaan." Kadang, yang paling menyakitkan bukan kehilangan seseorang, tapi kehilangan dirimu sendiri saat mencoba menemaninya dari nol.
All Rights Reserved
#276
cafe
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Candu Sentuhan Sahabat Hyper
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Nakula
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Salah Status
  • Prahara Lamaran [END]
  • Kembang Desa
  • Stand by Me (END+LENGKAP)

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines