Doa di Ujung Senja

Doa di Ujung Senja

  • WpView
    Reads 64
  • WpVote
    Votes 9
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadComplete Thu, Jan 15, 2026
WpInfo
Fanfic
Science Fiction
Romance
Social Themes
Kisah cinta yang dibingkai keimanan, namun harus berpisah karena terhalang nasab ──────────────── Cinta yang terhalang nasab-itulah yang dialami Luthfiya Inara Aulia Al-Qolbi dan Maulana Hasan Khalil Az-Zikr. Gus Maulana Hasan Khalil Az-Zikr, atau Gus Hasan, adalah putra kedua dari pemilik Pondok Pesantren Al-Hikmah di Jawa Timur. Keluarganya sangat menjaga garis keturunan; setiap anggota keluarga besar diwajibkan menikah dengan pasangan yang masih berada dalam satu nasab. Sementara itu, Luthfiya Inara Aulia Al-Qolbi, biasa dipanggil Luthfiya, adalah anak kedua dari dua bersaudara. Orang tuanya melarangnya menikah dengan keturunan trah pesantren. Mereka takut Luthfiya mengalami luka yang sama seperti kakaknya-tersakiti dan terpuruk karena perbedaan nasab. ──────── Di tengah keraguan itu, Luthfiya mendengar suara Hasan yang penuh ketenangan dan keyakinan. "Saya akan berusaha meminta izin kepada Abah dan Umi." Kalimat sederhana, namun berat-karena mereka sama-sama tahu, jalan yang harus ditempuh tidak mudah.
All Rights Reserved
#16
nasab
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • PAMENGKU | NOMIN
  • The Threads We Left Behind {Marjames / JJujami}
  • Given || Ju Jihoon
  • Obsession Overdose
  • CHANGE ROLES [PROSES EDITING]
  • Transmigrasi: Menjadi Istri Yang Dibenci✓[SASUSAKU]
  • I'm Not Just a Figuran
  • PREGNANT (DewTee)
  • Tokoh Pendukung Wanita
  • Journey

Sejak peristiwa itu, para sesepuh menetapkan satu pantangan yang tak pernah berani dilanggar. Tak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi puluhan tahun silam. Yang tersisa hanyalah cerita-cerita "konon" yang diwariskan dari mulut ke mulut. Tentang malapetaka yang selalu datang ketika kedua pamengku berdiri di pendapa yang sama. Tak seorang pun berani mempertanyakan kebenarannya. Hingga Manggala Paramayoga mulai bertanya... Apakah pantangan itu benar-benar ada?

More details
WpActionLinkContent Guidelines