Sebagai mahasiswa Statistika yang memuja data, probabilitas, dan logika, Riko terbiasa membedah segala hal di bawah lensa rasionalitas. Namun, kepulangannya dari UI Depok ke kampung halamannya di Desa Sawang, pedalaman Kalimantan Tengah, menghancurkan seluruh algoritma pikirannya.
Mengabaikan peringatan keras ibunya untuk tidak tiba pada Rabu Malam, Riko tanpa sengaja melanggar sebuah pantangan kuno. Sebuah anomali kecil di tengah gelapnya hutan-tatapan tak sengaja dengan sosok bapak bertopi caping yang tak kasatmata bagi supirnya-menjadi katalis mimpi buruknya.
Setibanya di rumah, teror sesungguhnya dimulai. Tengah malam, pintu rumah diketuk dengan kasar. Dari balik gorden, Riko melihat sosok yang mustahil: dirinya sendiri, berdiri mematung mengenakan jaket biru dan ransel persis seperti saat ia pulang. Apa yang awalnya Riko anggap sebagai halusinasi akibat kelelahan, perlahan berubah menjadi teror psikologis yang sistematis.
Sosok itu mulai merasuki mimpinya, mengacaukan realitasnya, hingga Riko terbangun di luar rumah mengenakan pakaian perjalanannya, padahal ia tertidur dengan baju piyama.
Keadaan semakin mencekam ketika warga desa menatap Riko dengan tatapan penuh kebencian dan waspada, mencurigai bahwa Riko yang berada di dalam rumah adalah sande (makhluk jadi-jadian peniru rupa), sementara "Riko" di luar adalah yang asli.
Di tengah kewarasannya yang terkikis habis, Riko harus menggunakan sisa-sisa pikiran analitisnya untuk memecahkan misteri folklore desanya sebelum sang Bayangan sepenuhnya mengambil alih eksistensinya di dunia nyata.
Follow Me:
Ig/Tk/Wtpd; teguhsamm_
All Rights Reserved