Teuku Lukman Alamsyah adalah seorang bangsawan di Lhokseumawe yang memiliki segalanya, kecuali kehangatan di masa tuanya. Takdir mempertemukannya dengan seekor kucing munchkin putih yang sekarat di sudut pasar yang kumuh. Tubuh mungil itu penuh parasit, bulunya yang putih tertutup jelaga, dan kakinya yang pendek bergetar menahan lapar. Lukman menamainya Satya-sebuah janji tentang kesetiaan.
Satya dirawat layaknya darah daging sendiri, menjadi pusat gravitasi di kediaman megah keluarga Teuku. Namun, pada pagi yang tenang di Desember 2004, laut bangkit dan menelan segalanya. Tragedi Tsunami Aceh meluluhlantakkan Lhokseumawe, menghancurkan istana Lukman, dan memisahkan mereka selamanya.
Lukman tewas, namun Satya selamat. Di dunia Satya yang kecil, konsep "kematian" tidak pernah ada. Yang ia tahu hanyalah bau parfum cendana milik Lukman yang tertinggal di ingatan, dan janji bahwa tuannya akan selalu pulang. Selama sepuluh tahun, di atas tanah kosong yang dulunya sebuah rumah, Satya menunggu. Ia menantang panas, hujan, dan waktu, membuktikan bahwa kesetiaan bukan sekadar kata, melainkan detak jantung yang berhenti hanya saat napas terakhir dilepaskan.
Follow this social Media
Ig/Tk/Wtpd: teguhsamm_
All Rights Reserved