
Di usia delapan belas tahun, Aneira Elvanya sudah terlalu sering menangis di balik pintu kamar kecilnya. Rumah yang semestinya memberi ketenangan justru penuh teriakan, pecahan piring, dan luka yang tidak pernah sembuh. Setiap hari ia bekerja di café, menyembunyikan lelah dengan senyum tipis yang tidak pernah benar-benar sampai ke mata. Namun hidup mulai berubah ketika dua laki-laki berbeda masuk ke hidupnya-tanpa ia undang, tanpa ia minta, tapi mereka datang. Aydan - laki-laki ceria, hangat, dan berani. Ia mencintai Aneira dengan cara yang langsung, cepat, dan membakar. Aydan jatuh hati pada senyum rapuh itu sejak pertama kali melihatnya di balik mesin kopi. Afdan - tenang, dewasa, dan diam-diam memperhatikan. Ia mencintai Aneira dengan cara yang lembut, sabar, dan menyakitkan bagi dirinya sendiri. Afdan melihat trauma Aneira sebelum perempuan itu sempat mengucapkannya. Dua hati. Dua cara mencintai. Dua pria yang sama-sama ingin merawat luka Aneira-yang bahkan ia sendiri tidak tahu bagaimana menyembuhkannya. Namun cinta tidak pernah sesederhana itu. Ketika Aneira perlahan membuka hatinya, ketika ia mulai merasakan hangatnya dicintai... di saat yang sama, ia dibuat bingung oleh dua cinta yang datang bersamaan. Aydan membuatnya merasa hidup. Afdan membuatnya merasa aman. Dan Aneira mulai bertanya: Dalam perjalanan penuh air mata, keputusan berat, dan pertanyaan yang belum terjawab, Aneira harus memilih: Siapa yang akan ia biarkan masuk ke dalam dunianya... dan siapa yang harus ia lepaskan?All Rights Reserved
1 part