"terluka tapi tak terhancurkan"
Boboiboy Solar adalah seorang anak yang sejak kecil dititipkan oleh orang tuanya pada Tok Aba di Pulau Rintis. Ia memiliki kepribadian yang unik karena terlalu pintar dan memiliki kemampuan analitis yang tinggi, tetapi karena itu pula ia sering kali di cap aneh oleh penduduk di kota Hilir.
Di Pulau Rintis, Boboiboy Solar hidup sendirian dengan Tok Aba kakeknya. Ia tidak memiliki teman sebaya dan sering kali merasa kesepian. Ia hanya memiliki buku-buku sebagai teman dan menghabiskan waktu dengan membaca dan belajar.
Sementara itu, di Pulau Hilir, keluarga Boboiboy Solar hidup bahagia dengan keenam saudara laki-lakinya. Mereka beberapa kali menghubungi Boboiboy Solar, tetapi hanya sekedar menanyakan keberadaannya saja. Mereka tidak pernah bertanya tentang perasaan Boboiboy Solar atau bagaimana kehidupannya di Pulau Rintis.
Boboiboy Solar merasa bahwa ia tidak memiliki tempat yang benar-benar miliknya. Ia merasa bahwa ia hanya seorang anak titipan yang tidak diinginkan oleh orang tuanya. Ia sering kali bertanya-tanya mengapa ia harus dititipkan di Pulau Rintis, sementara saudara-saudaranya hidup bersama orang tua mereka.
Suatu hari, Solar memutuskan mengubungi mereka dan kebetulan Amato yang mengangkat panggilan itu, Solar meminta mereka untuk mengunjungi atau membawanya pulang. Ia sangat berharap bahwa keluarganya akan datang dan membawanya pulang, sehingga ia dapat hidup bersama mereka.
Amato hanya menghela nafas dan memintanya untuk menunggu keputusan Tapi, hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, tidak ada jawaban dari keluarganya.
Solar merasa bahwa ia telah diabaikan dan tidak diinginkan. Ia merasa sakit hati dan tidak bisa menahan perasaannya lagi.