Kasih tidak pernah punya banyak teman. Hidupnya berputar di antara layar laptop, Adobe Photoshop, dan Corel Draw yang selalu terbuka bersamaan. Ia lebih nyaman bicara lewat warna dan bentuk ketimbang kata-kata, lebih pandai menciptakan harmoni di desain daripada di hubungan manusia.
Lalu datang Raka, mahasiswa hukum yang entah kenapa lebih sering nongkrong di ruang multimedia daripada di ruang sidang. Ganteng, cerewet, dan punya reputasi sebagai rival paling nyebelin di UKM Desain.
Mereka tidak pernah akur. Dari debat soal font Helvetica vs Poppins, ribut soal warna tone biru yang terlalu muda, sampai lomba desain nasional yang memaksa mereka jadi satu tim - semuanya membuat Kasih ingin melempar mouse ke wajah Raka.
Tapi malam-malam panjang di depan layar, revisi desain tak berujung, dan canda di sela zoom meeting membuat garis di hati mereka perlahan menyatu.
Kadang, cinta datang bukan lewat tatapan pertama, tapi lewat ratusan layer yang disusun di Photoshop dan ratusan path yang digambar di Corel.
Pixel Kasih - karena bahkan cinta pun butuh keseimbangan warna, kontras, dan satu resolusi yang sama.