
Malam selalu menjadi tempat yang aman bagiku. Bukan karena gelapnya menenangkan, tapi karena di sanalah aku bisa menyembunyikan suara hatiku sendiri- suara yang terlalu sering patah, terlalu sering ditinggalkan. Aku pernah percaya rumah itu bisa ditemukan pada seseorang, sampai semua orang yang kusebut rumah selalu memilih pergi lebih dulu. Aku belajar tersenyum, bahkan ketika dada terasa seperti ruangan kosong yang pintunya tak pernah ditutup rapat. Aku mencoba menjahit sendiri bagian yang rusak, walaupun benangnya tak pernah benar-benar rapi. Dan ketika akhirnya aku pulang- bukan pada seseorang, bukan pada tempat- aku hanya menemukan diriku sendiri, masih berdiri, meski sendu. Karena mungkin... beberapa hati tidak diciptakan untuk sembuh, tapi hanya untuk bertahan.All Rights Reserved
1 part