We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
JENTAKA: Dalam Kelana, Sunyi yang Membara

JENTAKA: Dalam Kelana, Sunyi yang Membara

  • WpView
    Reads 1,131
  • WpVote
    Votes 375
  • WpPart
    Parts 50
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jul 6, 2026
WpInfo
Fiction
Social Themes
Family Life
Abuse and Trauma
Coming of Age
Seperti namanya, JENTAKA Durjana ada orang tua menamai anaknya Dengan arti "Kesedihan". Kepergiannya yang tiada jejak itu, Tanpa pernah kusentuh jemarinya lagi, Tanpa pernah kulihat senyum manisnya lagi, Tanpa pernah kutatap sorot matanya kembali. Semua hilang, sirna, Lepas kami lulus dari Sekolah Menengah Pertama. Masih saja menorehkan sayatan di dada. Rasanya? Oh, jangan ditanya. Harus berapa kali aku gaungkan kata "sakit" agar jelas semuanya?
All Rights Reserved
#18
sportsromance
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Auto Save!
  • ELEGI ✔
  • The Pinky Boy
  • PROYEK SATU TAHUN
  • After the Fall
  • "Liburan" Bonus Suami
  • Target Si Supir [END]
  • ELION (bl)
  • Lirik Lagu VIVIZ
  • UNKNOWN
  • Warden's Bride
  • Trouble Maker[END]
  • Assassin's Promise
  • Kesayangan Kim Brother
  • Pemahamanku Menentang Surga
  • Not my Season of Love
  • Lysander Lowell De Villiers
  • Tresna Kang Tinatih Ing Alas Jati
  • Possessive Badboy [END]
  • Love or Hate Me? [End]

​"Bang, sumpah gue capek direvisi terus. Pengen resign terus nikah sama sugar daddy aja rasanya." "Kirimkan syarat pendaftarannya ke saya." "Hah? Pendaftaran apaan? Staf desain baru?" "Pendaftaran untuk menjadi laki-laki yang membiayai seluruh sisa hidup kamu." "Bang, kata anak-anak, Abang baru aja nolak Kak Dita ya? Padahal dia primadona kampus loh." "Itu bukan urusan kamu." "Lagian Abang nyari standar yang kayak gimana sih? Yang modelan bidadari turun dari kahyangan aja ditolak mentah-mentah." "Saya mencari yang berantakan, paling susah diatur, hobi begadang, dan selalu membantah ucapan saya..." "..." "Dan wangi tubuhnya seperti permen stroberi." Javas Mahesa (Jaja) mengira kutukan terburuknya sebagai mahasiswa DKV adalah urban legend hantu gantung diri di kosan lantai empatnya. Ternyata dia salah besar. Bencana aslinya justru berwujud Rendra Aditama, mahasiswa tingkat akhir Fakultas Hukum sekaligus koordinator divisinya yang kaku, galak, dan punya hobi meneror kanvas Figma milik Jaja dua belas jam sehari. Berawal dari keterpaksaan berburu sertifikat kelulusan, Jaja pikir penderitaannya di bawah kekuasaan kursor biru itu hanya sebatas nasib staf bawahan yang tertindas. Namun, dengan semua rentetan revisi tanpa ampun, kating hukum itu rupanya menyimpan agenda lain. Rendra tidak hanya berniat mendominasi kanvas desain Jaja, tapi juga seluruh perhatian, waktu, dan detak jantung mahasiswa baru yang selalu membuatnya pusing itu. Selamat datang di pusaran Nawasena Project. Tempat di mana revisi desain tidak pernah selesai, dan sikap posesif ugal-ugalan bersemi secara paksa dari sebuah ruang kerja digital. [Rank #1 - di #kampus 03/06/2026] [Rank #4 - di #bllokal 26/05/2026] [Rank #11 - di #boyslove 16/06/2026] Di-publish pertama kali pada Mei 2026.

More details
WpActionLinkContent Guidelines