Zarveth: Tahta Tanpa Mahkota
Saat perang besar berkecamuk, Zarveth, yang masih anak-anak, memilih untuk tetap berada di medan perang daripada mundur. Baginya, perdamaian sejati tidak akan pernah ada di dunia yang kejam ini.
Bertahun-tahun berlalu. Kemudian, ketika kelelahan melanda semua pihak, tiga kerajaan besar akhirnya mencapai kesepakatan: para elf Neiflim, manusia Arsteim, dan para kurcaci Mouncastell. Mereka menyebutnya perdamaian. Tetapi yang mereka tetapkan adalah keseimbangan yang dijaga dengan menghilangkan segala sesuatu yang berpotensi mengganggunya.
Kerajaan-kerajaan kecil dari berbagai ras menghilang dari peta. Perbatasan bergeser tanpa peringatan. Ketakutan menyebar, dan satu per satu, kerajaan-kerajaan yang tersisa dari berbagai ras mulai bergabung dengan pakta tersebut, putus asa untuk bertahan hidup. Dan akhirnya, perdamaian yang rapuh tercapai.
Meskipun perang besar berakhir, dunia tidak pulih; bayangan pengkhianatan masih membayangi pakta perdamaian. Semua pihak tahu bahwa pakta itu hanyalah dokumen tertulis, yang dapat dilanggar kapan saja. Semua orang terjebak dalam ketakutan.
Dan sementara mereka terlalu fokus pada ancaman dan stabilitas wilayah mereka sendiri, mereka tidak menyadari bahwa ras monster diam-diam berkembang biak tanpa terkendali. Mereka juga tidak tahu bahwa di balik layar, faksi-faksi tentara bayaran sedang merencanakan revolusi untuk merebut kendali tatanan dunia. Ketegangan diplomatik antara kerajaan dan ras di seluruh benua berada di ambang perang besar lainnya.
Dan di sinilah Zarveth, yang telah hidup selama bertahun-tahun dan sekarang menjadi seorang pria, berdiri dan berjuang untuk bertahan hidup dengan caranya sendiri-bukan melalui kepahlawanan, tetapi hanya melalui tindakan dan konsekuensinya. Dia mengukir jalannya sendiri melalui pilihan yang dia buat, menghadapi dilema moral, ego yang berbenturan antar faksi, dan prinsip yang berbenturan dengan orang-orang di sekitarnya.
Pertanyaannya adalah: bagaimana Zarveth akan bertahan hingga akhir?