Silk Sins

Silk Sins

  • WpView
    Reads 241
  • WpVote
    Votes 42
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Feb 20, 2026
Bebas menjadi hal yang paling Vanesha inginkan sejak dulu. Dua puluh tahun adalah usia yang diberikan sang Ayah untuk kebebasan yang ia dambakan itu. Namun, meski kebebasan itu akhirnya ia dapatkan, tetap ada beberapa aturan yang harus ia pegang erat-erat, salah satunya adalah; tidak menimbulkan skandal yang dapat mencoreng nama keluarga. Sebagaimana nama Sanjaya yang diwariskan dari seorang distinguished filmmaker yang sangat dihormati, karya-karya sejak Sanjaya pertama selalu berhasil menembus pasar dalam negeri maupun luar negeri. Namun sayang, Vanesha gagal menjaga salah satu pusaka yang diberikan sang Ayah.
All Rights Reserved
#111
rahasia
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • ADORE IN SILENCED
  • Beautiful Trouble
  • Hush! It's A Relationship .Pjm (✔)
  • RICH HERO : Beneath Her Broken Wings
  • Fiance in shadow
  • Last Heart
  • SELINA (NEW VERSION)
  • WEDDING VOWS
  • Kembang Desa

Cerita ini ada di paijo juga. --- Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines