
Aku pernah percaya bahwa cahaya dapat memurnikan siapa pun yang disentuhnya-hingga hari ketika seorang pelukis datang, membawa aroma terpencil dari kota yang belum pernah kulihat... ia menatapku seolah aku lebih dari permukaan yang harus dibaca, bukan dihuni. Dari matanya, aku belajar bahwa kekosongan bisa berbentuk apa saja: wajahku, tubuhnya, atau barangkali seluruh rumah tempat kami ingin berpapasan. Aku yang ingin. Orang-orang di sekelilingku menyebut keteraturannya sebagai kebajikan, lalu menyebut kegamanganku sebagai penyakit. Aku memercayai keduanya. Aku mencintai keduanya. Dan ketika tangan-tangan yang tidak sepenuhnya milikku mulai meraba isi jiwaku-pelukis itu, pria yang kelak dijanjikan padaku, keluargaku yang lebih memilih bayanganku daripada diriku-aku mulai sekarat oleh ketanyaan. "Mungkin akulah yang menghidupkannya. Mungkin ia yang menghabisiku lebih dulu. Atau mungkin kami tak pernah benar-benar ada, kecuali sebagai noda anggur di atas damask." Pada akhirnya, aku hanya mencoba membedakan mana yang merupakan darahku, mana yang merupakan tintanya-dan mana yang sesungguhnya adalah kehampaan yang sejak awal kupelihara sendiri.Alle Rechte vorbehalten
1 Kapitel