Moskow, jantung Rusia yang selalu sibuk mendadak senyap. Satu-satunya suara yang di dengar oleh warga hanyalah berita kematian yang datang setiap mereka lengah. Dan pelakunya? Seseorang yang menginginkan seorang tumbal.
-
"Jangan khawatir padaku, aku tidak mengkhawatirkan mu." Ia menepis tangan itu pelan. "Di dunia ini tidak ada balas budi, jika kau merasa berutang padaku aku akan dengan senang hati menjadi iblis yang mencabut nyawamu."
"Aku tidak membalas budi, aku melakukannya karena aku ingin."
-
"Orang yang berkuasa tidak ditentukan oleh apapun, tidak ditentukan oleh berapa banyak nyawa hilang di tangannya, pun tidak ditentukan oleh seberapa banyak darah yang mengikuti setiap langkahnya. Aku datang dan kau diam, artinya aku berkuasa."
-
"Dia terkendali, tapi tidak bisa dikendalikan."
-
Di sini, saudariku, kau tidak akan melihat pembunuhan tragis. Kau akan disuguhi pengorbanan dari seseorang yang seharusnya bahagia.
"Si vis pacem para bellum."
···
Kisah ini tumbuh dari imajinasi, tidak nyata, Dan tidak ada sangkut pautnya dengan dunia yang kau tempati.
Jika kau melihatnya meski hanya dalam satu kedip, dan merasa tidak bisa meninggalkannya. Maka tunggulah aku, aku tidak pernah benar-benar pergi dari dunia yang ku ciptakan sendiri. Dan untukmu ... kekasih Aksara-ku yang tersayang, aku akan selalu kembali karena aku merindukanmu. Selalu.
Terima kasih telah menghidupkan kembali separuh jiwaku yang telah mati.
Satu orang punya segalanya, satu orang cuma punya bengkel butut dan harga diri.
Bagi dunia, Rodien Asther Sagara adalah takhta.
Bagi Handeka Tyan Sagara, Asther hanyalah masalah yang bercabang.
Asther tidak butuh izin dunia untuk memiliki Deka. Dia hanya butuh Deka menyebut namanya-di bawah selimut, atau di depan ribuan kamera.
Ini bukan tentang kasta. Ini tentang siapa yang menyerah lebih dulu.
"Lo udah gue tandain, Dek. Nama Rodien emang berat, tapi badan lo jauh lebih berat buat gue lepasin..."