SWASTAMITA

SWASTAMITA

  • WpView
    Reads 16
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jun 9, 2026
"Jika cinta tidak bisa di paksakan lantas kita bisa apa, begitu juga dengan takdir" Azzura Yolanda gadis introvet penyuka novel dan musik kpop, ia tidak terlalu suka berbaur dengan orang-orang di sekitarnya. Ia lebih suka menyendiri menghabiskan waktunya untuk membaca sambil mendengarkan musik atau menonton drama. 🤍🤍 Algevan Julianser seorang ketua putsal yang cukup populer di sekolahnya dan tidak heran lagi jika banyak yang menyukainya termasuk kaum hawa. Namun ia tipe yang tidak peka dengan perasaan. "Gue emang gak peka kalo lo gak ngomong soal perasaan lo ke gue" 🤍🤍
All Rights Reserved
#177
ketenangan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Be My Wife
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • The Dateline [END]
  • Pawang Hantu Om Aktor
  • MINE, NO ONE ELSE (ON GOING)
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Silent Traces by the Sea

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines