The Phoenix : Astara

The Phoenix : Astara

  • WpView
    Reads 2
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadComplete Sun, Nov 30, 2025
Apa yang terlintas dipikiranmu ketika mendengar kata 'perkumpulan remaja'? Apapun itu mungkin akan berubah setelah membaca cerita ini. Phoenix, organisasi remaja besar dengan anggota ribuan orang dan memiliki 12 inti. 8 intinya adalah lelaki, dan sisanya perempuan. Organisasi ini berperan besar bagi lingkungan. Mereka menjalankan kegiatan amal, membantu dalam gotong royong, ataupun kegiatan positif lainnya. Namun, tidak semua yang mereka lakukan adalah kegiatan positif. Kegiatan negatif? Mungkin saja. Lagipula, hampir tidak ada perkumpulan remaja tanpa hal negatif kan?
Creative Commons (CC) Attribution
#715
smart
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain's Mother
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • De Andere Weg (END)
  • Nala dan Mas Juragan
  • Chasing Sanara
  • Almost Married (END)
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • The Last Yes!

Ngintip doang nih? 😗 🔞 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines