Ravel belum pernah gagal membunuh siapapun dalam hidupnya. la pembunuh bayaran paling presisi, paling tenang, dan paling ditakuti di dunia gelap. Dalam setiap operasi, detak jantungnya selalu stabil. Tangan tidak pernah gemetar. Hatinya tidak pernah goyah. Hingga suatu hari... ia tiba-tiba memutuskan untuk berhenti. Bukan karena tobat. Bukan karena takut. Bukan karena lelah. Tapi karena satu hal sederhana yang tidak pernah ia rasakan: ingin hidup seperti orang normal-makan di kantin, duduk di kelas, mengerjakan tugas kuliah, dan mungkin... jatuh cinta. Menghilang dari dunia kelam itu tidak mudah. Organisasi lama yang membesarkannya menganggap Ravel pengkhianat. Para pemburu bayaran lain mulai memburunya demi nama dan uang. Tapi Ravel tidak mundur-ia mendaftar kuliah dengan identitas baru dan berharap hidup damai. Lalu ia bertemu Arlin. Gadis cerewet yang selalu tersangkut masalah. Mulai dari hutang keluarga, mantan pacar toxic, sampai kasus misterius yang entah kenapa selalu menyeretnya. Arlin spontan, emosional, gampang meledak, dan benar-benar kebalikan Ravel. Dan tanpa sadar... ia menjadi alasan Ravel makin ingin bertahan di dunia normal. Namun kehidupan baru Ravel jauh dari kata tenang. Masa lalunya menuntut darah. Musuh-musuh lama mendekat. Rahasia kelam mulai terbuka. Untuk melindungi hidup normal yang ia impikan-dan melindungi Arlin-Ravel terpaksa kembali melakukan hal yang paling ia kuasai: Membunuh. Diam-diam. Tanpa jejak. Sambil tetap datang ke kelas pagi hari. Semakin ia mencoba menjadi manusia biasa, semakin dalam ia terseret perang bayangan yang ingin merenggut semua yang ia punya. Dan untuk pertama kalinya dalam hidup... Ravel tidak hanya bertarung untuk bertahan hidup. la bertarung agar orang yang ia cintai tidak mati karenanya.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang