Kota Z adalah kota metropolitan yang tampak modern dan aman, tetapi menyimpan retakan gelap di bawah permukaannya. Selama tiga bulan terakhir, kota itu diguncang serangkaian pembunuhan berantai yang aneh. Setiap korban ditemukan dengan mata ditutup kain hitam, tubuh bersih tanpa jejak, dan di lokasi selalu meninggalkan satu hal yang sama, setangkai bunga iris biru yang tidak dijual di mana pun di kota.
Kasus ini diberi nama oleh media: "The Iris Killer."
Detective ER, salah satu detektif kriminal terbaik di Divisi Kejahatan Berat Kota Z, ditugaskan memimpin penyelidikan. Ia terkenal dingin, tegas, dan tidak pernah melibatkan emosinya dalam pekerjaan sampai pembunuh itu tiba-tiba mengirimkan pesan langsung kepadanya, seolah-olah sudah mengenalnya lama.
Pesan itu berbunyi:
"Kau sudah terlambat, ER. Kau selalu terlambat."
Saat tekanan meningkat dan media menggila, kapolres memaksanya bekerja sama dengan seorang Jaksa kriminal baru.
Saat mereka menyelidiki lebih dalam, pola pembunuhan mulai mengarah pada satu kesimpulan disturbing:
Pembunuh itu tidak memilih korban secara acak. Semua memiliki hubungan dengan masa lalu ER. Sebuah masa lalu yang ia pikir sudah ia kubur dalam-dalam.
Dan semakin dekat ER mendekati kebenaran, semakin pembunuh itu membuat permainan berbahaya - permainan yang bukan hanya mengincar nyawa, tetapi juga memaksa ER menghadapi rahasia pribadi yang selama ini menghantuinya.
Di tengah pengejaran yang menyesakkan, hubungan ER dengan partner barunya perlahan tumbuh: antara saling curiga, tarik-ulur, konflik, dan ketertarikan yang tak bisa mereka cegah bahkan saat pembunuh itu terus mengintai, lebih dekat daripada yang mereka sadari.
Akhirnya ER harus memilih:
Menghentikan pembunuh atau menyelamatkan seseorang yang ia cintai. Karena dalam permainan ini, The Iris Killer selalu satu langkah di depan.