ULA DALILA
Malam yang kelam bukan karena gelap ataupun sunyi di sela bunyi jam dinding yang terus berputar wajah perempuan itu kembali hadir bukan sebagai bayangan yang ramah tetapi sebagai pengingat dari segala hal yang telah ia rusak dari tangannya sendiri
Nihlatul Ula Dalila Banati Nama yang begitu cantik sekali ini seperti parasnya dan juga hatinya.namanya begitu bersinar seperti matahari yang baru terbit mendatang.
Ia masih ingat bagaimana perempuan itu dulu menatapnya. Ada keyakinan di sana. Ada rasa aman. Ada kepercayaan yang utuh, yang diberikan tanpa syarat.
Setiap kecurigaan tanpa alasan adalah goresan. Setiap luka yang ia buat baik dengan kata maupun perbuatan adalah langkah menuju kehilangan yang tak terelakkan.
Wanita mana yang sabar menghadapi laki laki yang awalnya memberikan kesan yang begitu baik dengan nya tetapi ditengah perjalanan berubah semua suara yang meninggi, tangan yang kasar, dan kata-kata yang menghina bukanlah bukti kepedulian.
Kepergian yang tenang itu jauh lebih menyakitkan daripada ribuan kata makian. Karena di sana, ia tahu: perempuan itu sudah lelah berharap.
Perempuan itu, yang dulu ia kenal dengan hijab rapi dan langkah penuh keyakinan, perlahan berubah. Bukan karena ingin memberontak, bukan karena ia kehilangan iman, tetapi karena luka yang terlalu dalam membuatnya