Retak Tak Bersuara

Retak Tak Bersuara

  • WpView
    Reads 59
  • WpVote
    Votes 9
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Dec 2, 2025
Di balik senyum yang tak pernah sepenuhnya tiba, seorang anak tengah belajar diam sejak kecil-diam yang bukan pilihan, melainkan kebiasaan yang tumbuh dari ketiadaan ruang untuk bersandar. Ia hadir, namun kerap tak terlihat; ada, namun seolah tak pernah dianggap benar-benar ada. Dalam keluarganya, ia berdiri dengan dua kaki yang lelah, menopang diri sendiri ketika dunia di sekelilingnya terasa sibuk menuntut tanpa pernah mendengar. Hari-harinya dipenuhi retakan halus yang tak tampak oleh siapa pun. Namun retakan itu justru semakin nyaring di dalam dirinya, mengetuk pintu yang tak pernah ia berani buka. Di tengah kesunyian yang menyesakkan, ia berusaha menata ulang hidupnya-mencari cahaya kecil yang terselip di antara bayang-bayang ekspektasi dan ketidakhadiran perhatian. Novel ini adalah perjalanan menemukan diri: tentang luka yang tak terlihat, tentang keberanian mencari cahaya di tengah hening yang menyesakkan, dan tentang menemukan bahwa suara sekecil apa pun tetap berharga... selama ia berani mengeluarkannya. Saat ia perlahan belajar berbicara-pada dunia, pada keluarganya, dan terutama pada dirinya sendiri-ia menyadari bahwa diam tak selalu berarti kuat, dan bersuara bukan berarti menuntut. Terkadang, itu hanya cara untuk akhirnya diakui... dan disembuhkan.
All Rights Reserved
#49
pengertian
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • I'm Not Just a Figuran
  • GRAVARENZO
  • Transmigrasi Ziora
  • Tsundere Maniak Susu
  • GHAIKA (REVISI)
  • The Time
  • Blueprint Pelarian Villain
  • EVANESCENT (HIATUS)

​Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai semen SMA Nusantara Bakti seolah menjadi satu-satunya melodi yang akrab di telinga Arga. Matahari Jakarta yang menyengat di jam 12 siang sama sekali tidak ia gubris. Peluh membasahi jersey birunya, mengalir melewati leher dan hilang di balik kain yang sudah basah kuyup. ​Bagi Arga, hanya di lapangan ini dunia terasa jujur. Di sini, musuhnya jelas: ring basket dan lawan main. Tidak ada teriakan ibunya yang melengking menyalahkan takdir, tidak ada bau alkohol dari ayahnya yang pulang pagi membawa tumpukan utang baru, dan tidak ada beban rasa bersalah setiap kali melihat kakaknya pulang kerja dengan wajah pucat demi membiayai sekolahnya. ​"Arga! Berhenti main atau gue laporin ke BK karena bolos jam sejarah lagi!" ​Arga menghentikan dribel bolanya. Ia menoleh, menyeka keringat dengan punggung tangan, lalu menyeringai tipis melihat pengurus OSIS yang berdiri di pinggir lapangan dengan buku catatan. ​"Laporin aja," sahut Arga santai. "Ruang BK udah kayak rumah kedua buat gue, sekalian titip salam buat Pak Hendra." ​Di sisi lain koridor sekolah yang lebih dingin karena hembusan AC, melangkah sosok yang menjadi pusat gravitasi SMA Nusantara Bakti. Adrian. ​Setiap langkahnya terukur, seragamnya rapi tanpa cela, dan wajah blasterannya yang seolah dipahat langsung oleh malaikat, selalu memasang ekspresi datar yang sulit ditembus. Sebagai Ketua OSIS sekaligus putra tunggal dari pemilik Arsenio Group, Adrian adalah definisi kesempurnaan yang nyata. Hidupnya adalah garis lurus yang tenang, penuh fasilitas, dan kasih sayang yang melimpah. ​⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖ WARNING ⚠ - b×b - BL lokal - Mpreg - ini cerita bl, awas jangan salah lapak. - banyak typo bertebaran.

More details
WpActionLinkContent Guidelines