Di tengah musim panas yang seharusnya ringan, Shanaya Elara Nivelle justru berada di titik hidup yang paling sunyi. Prestasi datang bertubi-tubi, pujian mengalir tanpa henti, namun ada satu hal yang tak pernah benar-benar bisa ia genggam: keyakinan bahwa dirinya pantas untuk dicintai.
Ia terbiasa berjalan dengan suara sendiri-sinis, tajam, dan tampak kuat. Di balik itu, Shanaya menyimpan kebingungan yang tak pernah ia ucapkan: bagaimana cara menerima kebaikan tanpa merasa berhutang? Bagaimana mencintai tanpa merasa menjadi beban?
Twindra Aven Pradipta hadir sebagai seseorang yang terlalu sabar, terlalu mengerti, dan terlalu lembut untuk dunia yang keras. Cintanya tidak datang dengan tuntutan, hanya kehadiran. Namun justru di situlah letak masalahnya-karena bagi Shanaya, kebaikan yang tak bersyarat terasa lebih berat daripada luka yang jelas alasannya.
Ketika perpisahan terjadi tanpa amarah, tanpa suara tinggi, dan tanpa saling menyalahkan, yang tertinggal hanyalah ruang kosong yang tak tahu harus diisi dengan apa. Ada kata-kata yang tak terucap, perasaan yang tak sempat tumbuh dengan benar, dan dua orang yang sama-sama memilih jalan berbeda demi alasan yang sama: ingin melindungi satu sama lain, dengan caranya masing-masing.
Ini adalah kisah tentang seseorang yang belajar bahwa mencintai bukan hanya tentang memberi, tapi juga tentang berani menerima. Tentang kehilangan yang tidak berisik, dan perpisahan yang justru terasa paling lama hilangnya.
Karena terkadang, orang yang paling kita sayangi bukan pergi karena berhenti mencintai-
melainkan karena kita belum percaya bahwa kita layak untuk dipilih.
Short Story [21+]
Lihat TAG sblm baca, yaaa, biar gak salah genre♥️
Bukan cerita ng*we langsung beres, tapi ada alurnya. Yang gak suka cerita jenis beginian, jangan salah lapak!
Repost cerita lama
Dosa ditanggung bersama