The Porcelain Leash

The Porcelain Leash

  • WpView
    Reads 15
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Dec 2, 2025
Lady Janeve Vance adalah definisi sempurna dari "aset berharga". Cantik, berpendidikan, dan pewaris tunggal imperium bisnis Vance yang bernilai miliaran. Namun, di balik gaun sutra dan pesta dansa, dia hanyalah tawanan dalam sangkar emas. Ayahnya menjualnya dalam pernikahan politik kepada keluarga Salvatore, seorang politisi sadis yang melihat Janeve tak lebih dari sekadar trofi untuk dipajang dan dihancurkan. Putus asa dan terpojok, Janeve melakukan satu kesalahan fatal yang indah. Dia menatap kegelapan dan kegelapan menatapnya balik. Di balkon sebuah pesta elit, dia bertemu Altair Kalashnikov , "konsultan keamanan" misterius dengan mata abu-abu yang kosong-seorang pembunuh bayaran legendaris yang dikabarkan tidak memiliki rasa takut, sakit, maupun empati. Altair adalah anjing gila yang dirantai oleh uang, mesin pembunuh yang digunakan kaum elit untuk pekerjaan kotor mereka. Malam itu, Janeve menawarkan kesepakatan gila. "Jadilah milikku. Lindungi aku sampai aku bisa menghancurkan mereka semua. Dan aku akan memberimu bayaran yang tak sanggup diberikan oleh siapapun." Altair menerima. Namun, Janeve segera menyadari bahwa mengikat leher monster dengan tali porselen adalah tindakan berbahaya. Altair bukan sekadar pelindung. Dedikasinya pada Janeve perlahan berubah dari profesionalisme menjadi obsesi yang menyesakkan. Bagi Altair, Janeve bukan lagi majikan, melainkan satu-satunya hal yang nyata di dunianya yang abu-abu. Siapa pun yang menyakiti Janeve tidak hanya akan mati; mereka akan dihapuskan dari eksistensi. Ketika batas antara melindungi dan memiliki mulai kabur, Janeve harus bertanya pada dirinya sendiri. Apakah dia baru saja membebaskan diri dari satu penjara, hanya untuk masuk ke dalam pelukan iblis yang tidak akan pernah melepaskannya? "Dunia boleh terbakar, My Lady. Selama abunya tidak mengotori ujung gaunmu."
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Kembang Desa (Hiatus)
  • Nakula
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Prahara Lamaran [END]
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Salah Status

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines