Tentang Yang Tak Sempat Terucap

Tentang Yang Tak Sempat Terucap

  • WpView
    Reads 257
  • WpVote
    Votes 85
  • WpPart
    Parts 48
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Mar 31, 2026
​Tulisan ini adalah kumpulan surat-surat yang tak pernah dikirim, percakapan sunyi di tengah malam, dan perasaan-perasaan yang seringkali sulit kita beri nama. Setiap baitnya disusun untuk mengingatkan bahwa di dunia yang bergerak begitu cepat, merasa rapuh adalah hal yang manusiawi. Ia hadir sebagai teman perjalanan bagi siapa pun yang pernah mencintai, kehilangan, dan sedang berusaha menemukan jalan pulang menuju diri sendiri. ​Namun, selayaknya manusia yang terus bertumbuh, aku menyadari bahwa setiap aksara di dalam buku ini masih jauh dari kata sempurna. Masih banyak ruang kosong dan kekurangan di sela-sela diksinya. Aku bukanlah pemilik kata-kata indah yang magis; aku hanyalah seorang peniti rasa yang sedang belajar mengeja luka dan bahagia. Terima kasih telah bersedia menerima ketidaksempurnaan ini, dan membiarkan tulisan sederhana ini bertamu di ruang dengarmu.
All Rights Reserved
#105
senandika
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • 365 HARI BERCINTA DENGAN PUISI
  • Rembulan Yang Sirna
  • Unexpected Married  (YUSION/SIYU  GS)
  • Pikul Pilu Pada Pulangmu
  • အချစ်၏ဟန်ပန်-𝑻𝒉𝒆 𝑺𝒕𝒚𝒍𝒆 𝑶𝒇 𝑳𝒐𝒗𝒆(Complete)
  • kumpulan cerpen kookmin/Jikook (book 2)
  • My Wish
  • My SIN (GXG iam Lesbian)
  • Semua Memukul (✅)
  • poem

Aku tidak menulis ini untuk semua orang. Hanya untuk kamu- yang pernah merasa hilang, tapi bahkan tidak tahu ke mana harus pulang. 365 hari. 365 puisi. Tanpa jeda. Awalnya, ini hanya tentang menulis... lalu selesai. Tapi semakin jauh, aku mulai sadar- seperti ada sesuatu yang ikut menulis bersamaku. Sesuatu yang lebih jujur tentang luka daripada yang berani kita akui. Kalau kamu pernah: • tersenyum, tapi kosong • dikelilingi banyak orang, tapi tetap sendiri • atau hidup... tanpa benar-benar merasa hidup hati-hati. Buku ini bisa terasa terlalu dekat. Di dalamnya ada: luka yang tak sempat diberi nama, rindu yang kehilangan alamat, dan doa-doa yang hanya berani hidup dalam diam. Ini bukan sekadar tulisan. Ini jejak. Atau mungkin... pengakuan. Beberapa orang bilang, ada bagian yang terasa seperti ditulis khusus untuk mereka. Kebetulan? Atau... kamu yang memang sedang dipanggil? Mulai dari hari pertama. Kalau tidak ada yang kamu rasakan, kamu bebas pergi. Tapi kalau kamu memilih untuk tetap tinggal- bersiaplah. Karena mungkin, yang perlahan berubah bukan kata-katanya... melainkan kamu.

More details
WpActionLinkContent Guidelines