Tentang Yang Tak Sempat Terucap

Tentang Yang Tak Sempat Terucap

  • WpView
    Dibaca 343
  • WpVote
    Vote 85
  • WpPart
    Bab 48
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Sel, Mar 31, 2026
WpInfo
Puisi
Lirik / Liris
​Tulisan ini adalah kumpulan surat-surat yang tak pernah dikirim, percakapan sunyi di tengah malam, dan perasaan-perasaan yang seringkali sulit kita beri nama. Setiap baitnya disusun untuk mengingatkan bahwa di dunia yang bergerak begitu cepat, merasa rapuh adalah hal yang manusiawi. Ia hadir sebagai teman perjalanan bagi siapa pun yang pernah mencintai, kehilangan, dan sedang berusaha menemukan jalan pulang menuju diri sendiri. ​Namun, selayaknya manusia yang terus bertumbuh, aku menyadari bahwa setiap aksara di dalam buku ini masih jauh dari kata sempurna. Masih banyak ruang kosong dan kekurangan di sela-sela diksinya. Aku bukanlah pemilik kata-kata indah yang magis; aku hanyalah seorang peniti rasa yang sedang belajar mengeja luka dan bahagia. Terima kasih telah bersedia menerima ketidaksempurnaan ini, dan membiarkan tulisan sederhana ini bertamu di ruang dengarmu.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#857
senandika
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Pikul Pilu Pada Pulangmu | ✔
  • Semua Memukul (✅)
  • Unexpected Married  (YUSION/SIYU  GS)
  • kumpulan cerpen kookmin/Jikook (book 2)
  • My SIN (GXG iam Lesbian)
  • poem
  • Rembulan Yang Sirna
  • My Wish
  • အချစ်၏ဟန်ပန်-𝑻𝒉𝒆 𝑺𝒕𝒚𝒍𝒆 𝑶𝒇 𝑳𝒐𝒗𝒆(Complete)

Apa yang sebenarnya manusia inginkan? Apa yang sebenarnya lahir dari kembara tanpa tuju? Menyibak kekosongan, enggan berhenti. Satu dua kali, aku pun melakukannya. "Di mana rumahmu? Apa kamu mengunjunginya akhir-akhir ini?" Semilir mengantar gembiramu pada saat gelisah sejak kemarin menjemputku. Tapak tidak mengambil jeda. Pun bibir bergetar, melengkung pahit. "Tidak. Rumahku tidak dapat aku temukan." Rumahmu mungkin bukan lagi rumah yang hangat. Terlalu terkepul tangis, dusta, dengki, dan segala lara yang dibawa seorang diri. Tanpa kenal lelah meski sebenarnya ingin menyerah. Bersama perasaan-perasaan ini, kamu akan menemukan tempat bersandar. Bersama apa pun yang tertulis di sini, mari temukan kembali dirimu yang mungkin telah lama lupa jalan pulang. *** Seri Dua dari antologi puisi FOUR ©2026

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan