Mereka memanggilku noda. Buah dari rahim yang dianggap najis, lahir bukan sebagai anak, melainkan kesalahan yang berjalan. Namaku tak pernah penting, yang melekat hanyalah asal-usul. Seolah darah ibuku adalah dosa yang menurun tanpa ampun. Mereka membenci pelacur dengan mulut mereka, namun menghidupinya dengan tangan dan nafsu. Mereka berkata selalu ada jalan keluar, tapi pintu-pintu itu hanya terbuka bagi mereka yang tak pernah dikunci sejak awal. Ketika kami mencoba melangkah keluar, dunia justru mendorong kami kembali, lebih dalam ke lingkaran setan tanpa ujung. Tak ada yang ku inginkan selain kasih sayang ibu, ku kira kebaikan yang ku terima merupakan air susu yang ku nanti. Namun nyatanya tak lebih dari air tuba. Saat itu aku paham, bahwa memang sejak awal kebaikan berawal dari belas kasih yang berubah menjadi nafsu. Yang membuat ku menanggalkan tali sutra bersimpuh merah
More details