PERNIK MANIS

PERNIK MANIS

  • WpView
    Reads 492
  • WpVote
    Votes 131
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Mar 30, 2026
Angkara Raham Marghandi, pewaris muda berdarah Jawa-Arab dengan reputasi yang tak selalu indah, dijodohkan oleh keluarganya demi meredam masa lalunya yang penuh riuh. Pilihan itu jatuh pada Kahitri Gening Koesumo-gadis dua puluh dua tahun yang polos dan jernih hatinya, dengan cara memandang dunia yang sering kali membuat Angkara sulit menebaknya. Bagi Angkara, pernikahan ini hanyalah keputusan keluarga, lagi-lagi ia menjalani sebuah tugas. Tugas mengayomi perempuan itu seumur hidupnya. "Kahi tidak terlalu tahu bagaimana menjadi istri yang baik. Kata Ibu, cukup patuhi suami dan jangan membuatnya kecewa. Tapi... Kahi agak takut kalau suaminya Mas Angkara, si pangeran bertanduk itu, matanya itu loh menyeramkan". - Kahitri Gening Koesumo Pertama kali melihat perempuan itu, Angkara tidak merasakan apa-apa selain kesal yang sulit ia sembunyikan. Terlalu polos. Terlalu mudah percaya dan tidak menantang. "Dia itu hanya manik manis yang akan bertahan di pernikahan ini, bukan keinginan ku menikahi perempuan bocah itu, sekarang kita lihat sejauh mana aku bisa berperan menjadi suami bertanggung jawab yang di inginkan si tua Wijaya" - Angkara Raham Marghandi Kahitri menerima pernikahan ini dengan hati ringan dan rasa ingin tahu yang besar, sementara Angkara hanya menjalani sesuatu yang tak pernah bisa ia tolak dari eyang Wijaya. Dua orang dengan dunia yang bertolak belakang, dipertemukan oleh kesepakatan keluarga-dan tak satupun tahu, apakah pertemuan ini akan menjadi hubungan sementara atau hubungan hingga tamat usia. °°° Copyright © [2025] by Sachi Naja. All Rights Reserved. Seluruh isi cerita, termasuk karakter, alur, dialog, dan keseluruhan dunia fiksi di dalamnya, merupakan karya asli penulis. Dilarang keras menyalin, menggandakan, menerjemahkan, mempublikasikan ulang, atau mengambil bagian apa pun dari karya ini tanpa izin tertulis dari penulis. Pelanggaran akan dikenakan tindakan sesuai ketentuan hukum hak cipta yang berlaku.
All Rights Reserved
#309
lovestory
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Prahara Lamaran [END]
  • Nakula
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Salah Status
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Kembang Desa (Hiatus)
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines