kisah Lauhul Mahfudz

kisah Lauhul Mahfudz

  • WpView
    LECTURAS 11
  • WpVote
    Votos 0
  • WpPart
    Partes 3
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación mié, dic 3, 2025
Kisah Lauhul Mahfudz Ameera dan Bimo, sepasang sahabat yang sengaja bertemu sore ini di salah satu taman kota. Banyak hal yang menggangu Almeera sejak kemarin. Dia butuh tempat cerita untuk sekadar didengar, dan Bimo selalu menjadi seseorang yang ia pilih untuk melampiaskan isi hati dan kepalanya. "Hari ini langit tak secerah biasanya, ya." Ujar Almeera dengan melemparkan pandangannya pada langit yang mulai kembali mendung. "Seperti hatiku, banyak airmata yang aku simpan di dalam hati akhir-akhir ini." Lanjutnya. "Pelangi akan tampak setelah hujan deras, Meera. Sebagai pertanda bahwa semua perjalanan akan indah pada saatnya." Jawab Bimo sambil menatap rerumputan basah yang berada di depannya. Almeera pun menoleh ke arah Bima. "Bim, boleh aku bertanya satu hal?" tanyanya. "Boleh, mau tanya apa?"
Todos los derechos reservados
#1
mahfudz
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • The Time
  • Transmigrasi Ziora
  • GHAIKA (REVISI)
  • Tsundere Maniak Susu
  • EVANESCENT (HIATUS)
  • GRAVARENZO
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • I'm Not Just a Figuran
  • Blueprint Pelarian Villain [END]
The Time

Tiga tahun Jeselyn Ananta menghabiskan waktunya mengejar bayang-bayang tunangan nya, Leon Gamalio. Baginya, Leon adalah segalanya. Namun, malam itu mengubah segalanya. Hantaman keras sebuah truk di persimpangan jalan gelap membuat nya berada di ambang maut, dalam koma yang panjang, jiwa Jeselyn melayang masuk ke sebuah masa depan yang tak pernah ia bayangkan. Ia melihat dirinya sendiri dalam versi yang lebih dewasa, lebih rapuh, dan hancur di tengah kemewahan sebuah rumah megah. "Mau ke mana lagi?" tanya Jeselyn masa depan dengan suara serak akibat tangis. "Menemani wanita yang sedang mengandung anakku," jawab Leon dingin, tanpa sedikit pun menoleh. Kenyataan pahit itu menghujam jantung Jeselyn. Pernikahan yang ia impikan ternyata hanyalah penjara tanpa cinta.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido