Ada cinta yang tumbuh dari tawa.
Ada cinta yang tumbuh dari luka.
Dan ada cinta seperti milik Rara yang tumbuh dalam diam, bersembunyi di balik segala hal yang tidak pernah berhasil ia ucapkan.
Rara selalu tampak tenang bagi orang lain.
Diamnya lembut, suaranya jarang meninggi, langkahnya ringan seakan dunia tidak pernah memberatkan pundaknya. Di mata Arkan, ia adalah sosok yang tak akan goyah menunggu dengan sabar, tersenyum dengan mudah, mencintai tanpa syarat.
Namun ia tidak melihat apa yang perlahan terkikis di balik ketenangan itu.
Rara menjalani hari-harinya seperti seseorang yang takut membuat suara terlalu keras, seolah sedikit saja keliru, dunia akan kembali runtuh seperti dulu. Senyum yang ia berikan bukanlah topeng, tetapi kebiasaan yang sudah terlalu lama melekat, mengaburkan batas antara yang ditahan dan yang benar-benar dirasakan.
Kadang, ketika malam terlalu panjang, Rara mendengarkan napas sendiri dan bertanya dalam hati:
Apakah cinta benar-benar bisa selembut itu? Atau hanya manis bagi orang-orang yang tahu bagaimana meminta?
Pertanyaan itu menggantung, nyaris tak terdengar.
Arkan tidak pernah menangkapnya, dan Rara tidak pernah berani mengulang.
Ia mencintai dengan seluruh keberadaannya pelan, hati-hati, dan selalu dari kejauhan, seolah takut bahwa terlalu dekat akan membuat semuanya hilang. Ada sesuatu dalam dirinya yang terus menipis, tapi ia tidak tahu bagaimana cara menyelamatkan diri tanpa membuat orang lain menjauh.
Dan di antara malam-malam panjang itu, Rara mulai merasa bahwa ada bagian kecil dari dirinya yang tak lagi sanggup bertahan. Bukan karena tidak ada cinta, tetapi karena terlalu banyak yang ia simpan sendirian.
Ini bukan tentang kepergian.
Bukan juga tentang perpisahan.
Hanya tentang seseorang yang mencoba bertahan dengan cinta yang terus ia peluk meski pelan-pelan membuatnya letih.
Please, don't plagiat🙅
No no yaa🙎
•••••
"Nak, demi keluarga kita... kamu harus menikahi Tuan Arsen."
"APA?! Menikah dengan Bos Papa?! Tidak mau! Papa, ini lelucon, kan?! Aku masih kelas tiga SMA! Aku bahkan sudah punya pacar! Papa tidak bisa melakukan ini padaku!" Virly menolak mentah-mentah.
Reaksi Virly sama sekali tidak menggoyahkan Arsen. Ia bangkit dari sofa, menjulang tinggi di atas keluarga yang sedang hancur itu.
"Aku tidak peduli kau punya pacar atau masih kelas tiga SMA. Kau punya satu hari untuk memutuskan. Menikah denganku, atau ayahmu masuk penjara dan semua asetmu akan kuserahkan ke bank. Aku hanya butuh ibu untuk kedua anakku." Ucap Arsen dingin dan tegas
"Kau tak boleh seenaknya!" Virly berteriak kesal.
"Pikirkan baik-baik. Waktu terus berjalan, Nona." Arsen melangkah Pergi.
Virly yang berusia 17 Tahun, siswi kelas tiga SMA yang ceria yang masih mendambakan kebebasan, mendadak harus berhadapan dengan takdir pahit yang mengancam keluarganya.
Sang ayah, yang terlilit utang besar pada bosnya, Arsen yang berusia 30-an, seorang duda dingin beranak dua, menjadikan Virly sebagai jaminan.
Di bawah ancaman penjara dan penyitaan seluruh aset keluarga, Virly terpaksa menerima pinangan sang duda. Ia harus segera menikah dan menjadi ibu bagi dua anak kecil, sekaligus menghadapi Arsen yang selalu bersikap dingin dan tidak peduli pada perasaannya.
Mampukah Virly bertahan dalam pernikahan tanpa cinta ini? Dan bisakah ia, yang masih labil, menjadi ibu yang sempurna bagi dua anak yang asing baginya?