Setelahnya

Setelahnya

  • WpView
    Reads 5
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Dec 9, 2025
Ada cinta yang tumbuh dari tawa. Ada cinta yang tumbuh dari luka. Dan ada cinta seperti milik Rara yang tumbuh dalam diam, bersembunyi di balik segala hal yang tidak pernah berhasil ia ucapkan. Rara selalu tampak tenang bagi orang lain. Diamnya lembut, suaranya jarang meninggi, langkahnya ringan seakan dunia tidak pernah memberatkan pundaknya. Di mata Arkan, ia adalah sosok yang tak akan goyah menunggu dengan sabar, tersenyum dengan mudah, mencintai tanpa syarat. Namun ia tidak melihat apa yang perlahan terkikis di balik ketenangan itu. Rara menjalani hari-harinya seperti seseorang yang takut membuat suara terlalu keras, seolah sedikit saja keliru, dunia akan kembali runtuh seperti dulu. Senyum yang ia berikan bukanlah topeng, tetapi kebiasaan yang sudah terlalu lama melekat, mengaburkan batas antara yang ditahan dan yang benar-benar dirasakan. Kadang, ketika malam terlalu panjang, Rara mendengarkan napas sendiri dan bertanya dalam hati: Apakah cinta benar-benar bisa selembut itu? Atau hanya manis bagi orang-orang yang tahu bagaimana meminta? Pertanyaan itu menggantung, nyaris tak terdengar. Arkan tidak pernah menangkapnya, dan Rara tidak pernah berani mengulang. Ia mencintai dengan seluruh keberadaannya pelan, hati-hati, dan selalu dari kejauhan, seolah takut bahwa terlalu dekat akan membuat semuanya hilang. Ada sesuatu dalam dirinya yang terus menipis, tapi ia tidak tahu bagaimana cara menyelamatkan diri tanpa membuat orang lain menjauh. Dan di antara malam-malam panjang itu, Rara mulai merasa bahwa ada bagian kecil dari dirinya yang tak lagi sanggup bertahan. Bukan karena tidak ada cinta, tetapi karena terlalu banyak yang ia simpan sendirian. Ini bukan tentang kepergian. Bukan juga tentang perpisahan. Hanya tentang seseorang yang mencoba bertahan dengan cinta yang terus ia peluk meski pelan-pelan membuatnya letih.
All Rights Reserved
#764
perceraian
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Stand by Me
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Candu Sentuhan Sahabat Hyper
  • Kembang Desa
  • Nakula
  • Hello Mr. Komrad
  • Prahara Lamaran [END]
  • Salah Status
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]

Cerita ini ada di paijo juga. --- Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines