Re-Key Your Perfection

Re-Key Your Perfection

  • WpView
    Reads 158
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 18
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Feb 17, 2026
WpInfo
Fiction
Romance
Aku mengunci semuanya, Bisu disudut hati yang rajin mengiris dirinya setiap malam. Menutup rapat setiap celah, Membeku pada rasa sakit yang makin lama rasanya makin hambar. Hatiku bingung, Rasanya mendamba, tapi enggan mengusahakan mungkin sebab perasaan tidak layak yang mematikan Aku menarik diri dari semua orang. Anehnya pada dirinya aku luluh Padanya semua gembok terbuka, Hatiku mencair. Bangkit, mendamba dengan lebih berani Re-Key Your Perfection, Bersamamu, aku berharap bisa mengunci ulang kesempurnaan yang tak pernah bisa ku miliki. Sekalipun ketakutan, Kali ini, kamu akan ku usahakan.
All Rights Reserved
#41
mentalhealt
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Salah Status [END]
  • Stand by Me (END + MASIH BERANTAKAN, INI TULISAN PERTAMA GUE WOI MAKANYA BRNTKN)
  • Kembang Desa
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Nakula
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Prahara Lamaran [END]

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines