Alvino Mahendra hanya memiliki satu misi sederhana dalam kehidupan kampusnya: menjadikan Karina, sang primadona fakultas, sebagai kekasihnya. Dan dalam skenario sempurna itu, hanya ada satu tokoh antagonis: Jefri Arkatama. Bagi Vino, Jefri adalah rival abadi. Si "Kulkas Berjalan" yang minim ekspresi, irit bicara, dan selalu menghalangi jalannya menuju Karina. Vino membenci bagaimana Jefri selalu ada di mana Karina berada, dan ia membenci bagaimana dirinya selalu terlihat konyol di hadapan cowok perfeksionis itu. Namun, ada yang salah dengan skenario permusuhan ini. Jika Jefri benar-benar musuhnya, mengapa tatapan tajam di balik kacamata itu sering kali melembut saat tak ada orang lain yang melihat? Jika mereka bersaing mendapatkan Karina, mengapa Jefri justru menjadi orang pertama yang memanjat pagar rumah Vino di tengah malam hanya karena khawatir Vino sakit? Dan yang paling membingungkan... mengapa pelukan Jefri di dalam tenda sempit itu terasa jauh lebih "benar" daripada semua angan-angannya tentang Karina? Semuanya meledak ketika Jefri tiba-tiba melempar handuk putih. "Gue mundur. Ambil Karina. Lo menang." Kalimat itu seharusnya menjadi trofi kemenangan bagi Vino. Tapi, kenapa rasanya justru seperti kekalahan telak yang meremukkan hati? Mengapa dunia Vino mendadak sepi saat "pengganggu" itu pergi? Di balik drama rivalitas ini, ada sebuah skenario besar yang tidak Vino ketahui. Sebuah rahasia yang disimpan rapat oleh Karina dan orang-orang terdekat mereka. Apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka? Benarkah ini sekadar persaingan cinta segitiga, ataukah Vino selama ini hanyalah pemain dalam sebuah permainan takdir yang sudah diatur rapi? Dan ketika kebenaran terungkap, sanggupkah Vino mengejar kembali "musuh" yang terlanjur ia patahkan hatinya?
Más detalles