until the last sound

until the last sound

  • WpView
    Reads 48
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 33
WpMetadataReadOngoing2h 21m
WpMetadataNoticeLast published Fri, Dec 5, 2025
Tian adalah seorang mahasiswa seni yang lugu, sensitif, dan keras kepala. Ziyu adalah fotografer muda penuh pesona, nakal, dan sulit ditebak. Mereka bertemu dengan cara paling absurd-penghapus melayang, buku hilang, dan serangkaian keusilan yang membuat mereka saling membenci... lalu saling memperhatikan... dan akhirnya saling jatuh cinta. Dari awal hubungan yang manis dan penuh tawa, Tian dan Ziyu membangun kehidupan sederhana yang hangat. Mereka saling menjadi rumah, saling menenangkan badai di hati satu sama lain, saling merayakan hari-hari kecil yang indah. Hingga suatu hari, dunia mereka berubah. Tian didiagnosis ALS (Amyotrophic Lateral Sclerosis)-penyakit yang perlahan mengambil kemampuan tubuhnya satu per satu. Dari tangan yang tak lagi bisa mengangkat kuas, kaki yang kehilangan kekuatan, suara yang memudar, hingga seluruh tubuh yang akhirnya tak bisa bergerak sama sekali. Dalam setiap tahap kejatuhan itu, Ziyu tetap di samping Tian. Memandikannya. Membacakan kisah untuknya. Mendorong kursi rodanya menembus hujan. Menguatkan ketika Tian merasa hidupnya tidak lagi layak. Menjadi suara yang menggantikan suaranya. Menjadi tangan ketika tangan Tian tak lagi bisa digerakkan. Sampai hari terakhir-hari ketika Tian pergi dalam tidur, meninggalkan dunia yang perlahan meninggalkannya. Namun cinta mereka tidak berhenti di sana. Surat terakhir Tian, kenangan yang ditinggalkan, dan janji yang tak pernah putus membuat Ziyu terus menjalani hidup sambil membawa Tian di hatinya. Tahun demi tahun, ia menunggu dengan tenang-hingga kelak, angin yang pernah membawa Tian pergi, akan membawanya pulang juga. Ini adalah kisah tentang cinta yang lahir dari keusilan kecil. Tumbuh dalam kehangatan. Diuji oleh kehilangan. Dan menjadi abadi ketika salah satunya pergi. Sebuah cerita tentang mencintai seseorang sepenuh hati, meski tahu bahwa waktu tidak akan selamanya berpihak.
All Rights Reserved
#173
tianziyu
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Her Prison, Her Pleasure(Intersex)
  • Heer~THE UNWANTED DAUGHTER
  • AKSHARA - THE FORGOTTEN SEED
  • Temperature Gap
  • UNFAITHFUL HEART
  • The Royal's Love
  • The Sinister
  • The Enigma's debt
  • ခိုဝင်တိမ်းမူးမြတ်နိုးရပါသော...နှလုံးသားငယ်
  • No Place Like Home: A Marriage In Trouble Romance

Valeria didn't rush. She never did. Inez was pinned beneath her, wrist locked overhead, the hold precise and impersonal. Not pain. Control. Inez scoffed anyway. "That's it?" she sneered. "I've had tutors scarier than you." Valeria said nothing. The silence pressed in. "You don't scare me," Inez added, louder. Brattier. "You just-" "Enough." One word. Flat. Final. Valeria lifted Inez's chin with two fingers, detached as a correction. "Look at me," she said coolly. "If you're going to embarrass yourself, do it properly." Inez laughed, brittle. "You think this makes you powerful?" "I don't think," Valeria replied. "I decide." Her gaze never wavered. "You provoke because it's the last control you have." "I don't belong to you," Inez snapped. Valeria leaned in, voice razor-thin. "You are my wife. You belong to consequences." She released her grip. "Say it." "No." Valeria waited. The quiet broke Inez, she hated being ignored. "...I'll behave, I'll be a good girl" Inez muttered. "Specify." Inez swallowed hard. "...I'll be your good girl" Valeria stepped back, already distant. "Good," she said. "Remember why." #1 older women-13th February (FAST PACE BOOK)

More details
WpActionLinkContent Guidelines