Catatan: Puisi prosa ini memiliki 1.200+ kata
Tulisan ini adalah karya original yang lahir dari sebuah eksperimen pikiran. Inspirasi utamanya datang dari puisi klasik "A Psalm of Life" karya Henry Wadsworth Longfellow. Namun, jika Longfellow berbicara tentang meninggalkan jejak abadi dan menjadi pahlawan dalam kehidupan, saya justru merasa tergelitik untuk menuliskan antitesisnya.
Idenya muncul karena saya merasa tidak semua momen akhir hayat itu indah dan puitis seperti kata pujangga. Jadi, saya menulis ini sebagai counter-narrative. Di mana Longfellow melihat harapan, saya menuliskan kepasrahan yang sarkas. Agak aneh rasanya memparodikan puisi legendaris menjadi se-gelap ini.
Puisi prosa ini saya tulis sebagai upaya mendekonstruksi romantisme kematian yang sering diagungkan para penyair lama. Di sini, saya meminjam frasa ikonik Longfellow, seperti "footprints on the sands of time" atau "be a hero in the strife", dan membenturkannya dengan tembok realitas yang keras. Hasilnya adalah sebuah parodi yang getir. Memang terasa ganjil, tapi bukankah kematian itu sendiri adalah ironi terbesar?
Alle Rechte vorbehalten