Story cover for Putri by velvetviss
Putri
  • WpView
    LECTURAS 9,282
  • WpVote
    Votos 97
  • WpPart
    Partes 10
  • WpView
    LECTURAS 9,282
  • WpVote
    Votos 97
  • WpPart
    Partes 10
Continúa, Has publicado dic 06, 2025
Contenido adulto
3 partes nuevas
🔞 Putri hidup dalam kemiskinan struktural. Tinggal di pinggiran kota Jakarta, perempuan itu hidup di sebuah kamar kontrakan kecil bersama orang tua dan tiga adiknya.

Menjadi anak perempuan pertama memaksa Putri untuk menjadi lebih tangguh daripada wanita kebanyakan. Dengan impian bisa menikahi pria kaya, Putri "memaksa" dirinya untuk bersosialisasi dengan The Velvet Vault--sebuah organisasi dimana semua jutawan hingga miliuner muda Jakarta berkumpul.

Dari mereka, Putri belajar kalau ia memang harus menghalalkan segala cara untuk mendapatkan dunia.
Todos los derechos reservados
Regístrate para añadir Putri a tu biblioteca y recibir actualizaciones
O
Pautas de Contenido
Quizás también te guste
THE IDOL'S HIDDEN LUST  de NonaLebah
42 partes Continúa Contenido adulto
"Lepas, Mas! Aku bisa aduin ini ke Juna!" teriak Avaya, suaranya gemetar ketakutan, tapi terdengar teredam, seperti terperangkap dalam kotak. Arya hanya terkekeh dingin. Dengan gerakan kasar, dia meraih ujung kaos hitamnya dan menariknya lewat atas kepala. Tubuhnya terpampang jelas: bidang, berotot, dengan beberapa tato yang terlihat di lengan dan dadanya. Sebuah tubuh yang kontras dengan jiwa penyanyinya. "Terus Juna bisa apa?" ejeknya sinis, sambil melangkah mendekat. Avaya berusaha lari ke pintu, mencoba memutar kenopnya dengan liar. Tapi terkunci. Dia memukul-mukul pintu yang berat itu. "Tolong! Tolong!" teriaknya, panik, tapi suaranya hanya bergema lemah di dalam ruangan kedap suara itu. Arya sudah berdiri di belakangnya. Dengan mudahnya, dia memutar tubuh Avaya yang ringkih dan mendorongnya hingga terjatuh ke atas kasur. Rok Avaya tersingkap, memperlihatkan lebih banyak paha yang mulus. Avaya mencoba bangun, tapi Arya sudah menahan tubuhnya. Wajah Arya mendekat, matanya gelap dan penuh niat jahat. "Mau apa kamu, Mas? Aku bakal teriak!" ancam Avaya, suaranya parau ketakutan. "Teriak aja," bisik Arya, napasnya sudah dekat di telinga Avaya. "Nggak akan ada yang denger. Apa lagi perduli." Sebelum Avaya bisa berteriak atau melawan lebih jauh, Arya sudah menangkis tangan yang melawan, menahan tubuhnya dengan kuat, dan menutup mulut Avaya dengan tangannya yang kasar. Wajahnya mendekat, dan dia mencium Avaya dengan paksa, sebuah ciuman yang keras, penuh kuasa dan amarah, bukan penuh kasih. Sebuah pelampiasan dari segala kekecewaan dan rasa sakit yang selama ini ia pendam. Dengan gerakan kasar dan penuh kuasa, tangan Arya yang besar mencengkeram kerah blus Avaya. Kain itu meregang sebelum akhirnya terkoyak. Suara kancing-kancing kecil yang berhamburan ke lantai
Quizás también te guste
Slide 1 of 10
THE IDOL'S HIDDEN LUST  cover
WEDDING VOWS cover
Naughty Nanny cover
Lockdown Bareng Om cover
End You (Short Story) cover
Susu Manis di Ruang Kerja cover
Kiss & Play [21+] cover
Cinta Di Garis Terlarang cover
TERPERANGKAP OLEHMU cover
OBSESSED cover

THE IDOL'S HIDDEN LUST

42 partes Continúa Contenido adulto

"Lepas, Mas! Aku bisa aduin ini ke Juna!" teriak Avaya, suaranya gemetar ketakutan, tapi terdengar teredam, seperti terperangkap dalam kotak. Arya hanya terkekeh dingin. Dengan gerakan kasar, dia meraih ujung kaos hitamnya dan menariknya lewat atas kepala. Tubuhnya terpampang jelas: bidang, berotot, dengan beberapa tato yang terlihat di lengan dan dadanya. Sebuah tubuh yang kontras dengan jiwa penyanyinya. "Terus Juna bisa apa?" ejeknya sinis, sambil melangkah mendekat. Avaya berusaha lari ke pintu, mencoba memutar kenopnya dengan liar. Tapi terkunci. Dia memukul-mukul pintu yang berat itu. "Tolong! Tolong!" teriaknya, panik, tapi suaranya hanya bergema lemah di dalam ruangan kedap suara itu. Arya sudah berdiri di belakangnya. Dengan mudahnya, dia memutar tubuh Avaya yang ringkih dan mendorongnya hingga terjatuh ke atas kasur. Rok Avaya tersingkap, memperlihatkan lebih banyak paha yang mulus. Avaya mencoba bangun, tapi Arya sudah menahan tubuhnya. Wajah Arya mendekat, matanya gelap dan penuh niat jahat. "Mau apa kamu, Mas? Aku bakal teriak!" ancam Avaya, suaranya parau ketakutan. "Teriak aja," bisik Arya, napasnya sudah dekat di telinga Avaya. "Nggak akan ada yang denger. Apa lagi perduli." Sebelum Avaya bisa berteriak atau melawan lebih jauh, Arya sudah menangkis tangan yang melawan, menahan tubuhnya dengan kuat, dan menutup mulut Avaya dengan tangannya yang kasar. Wajahnya mendekat, dan dia mencium Avaya dengan paksa, sebuah ciuman yang keras, penuh kuasa dan amarah, bukan penuh kasih. Sebuah pelampiasan dari segala kekecewaan dan rasa sakit yang selama ini ia pendam. Dengan gerakan kasar dan penuh kuasa, tangan Arya yang besar mencengkeram kerah blus Avaya. Kain itu meregang sebelum akhirnya terkoyak. Suara kancing-kancing kecil yang berhamburan ke lantai