Mas Jubir dan Temannya

Mas Jubir dan Temannya

  • WpView
    Membaca 287
  • WpVote
    Vote 48
  • WpPart
    Bab 13
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Rab, Des 31, 2025
WpInfo
Fiksi
Romansa
(On going) "Adek, Mas ditawari jadi juru bicara presiden." "Bukan sama presiden sekarang, tapi salah satu capres. Mas yakin sih capres ini bakal menang." Anantari menatap Eza dengan mata gamang. "Kenapa?" Tanyanya penasaran. "Pengaruh elektabilitas Presiden ke-9." *** Eza Pandu Widjaja dan Anantari Cempaka Kirana telah berteman sejak bangku sekolah dasar hingga usia mereka yang kini tak muda lagi. Ada pepatah yang mengatakan bahwa orang yang sama akan berkumpul bersama dan itu benar adanya. Eza yang selalu ditinggalkan dan Anantari yang selalu bertepuk sebelah tangan. Dengan kata sederhana yang Eza mulai keduanya bersama, menjelajahi hubungan yang tak lagi murni pertemanan, namun Anantari rasa bukan juga pasangan. Eza yang telah menjadi Direktur Risk Management Bank Atmaja merasa bahwa sudah saatnya ia mewujudkan mimpi temannya karenanya ia terima tawaran untuk menjadi Deputi bidang Diseminasi dan Media Informasi Kantor Komunikasi Presiden (PCO) yang mengantarnya menjadi juru bicara presiden termuda. Namun sejak itu, hidupnya tak lagi sama, bertambah ruwet hingga ia ragu benarkan ia pantas untuk temannya yang penuh kebaikan? PS: Hanya kisah mas deputi yang menjadi mas jubir dan temannya:) Cover by Canva 2025
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#16
pilpres
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Nala dan Mas Juragan
  • Nakula
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Salah Status [END]
  • Prahara Lamaran [END]
  • Kembang Desa

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan