When Winter Meets Her Dawn

When Winter Meets Her Dawn

  • WpView
    Reads 1,677
  • WpVote
    Votes 297
  • WpPart
    Parts 11
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Feb 25, 2026
Saat mentari terbenam di sela-sela gunung es musim dingin, cahaya terakhirnya merayap lembut di permukaan danau yang beku. Cahaya singkatnya seolah mencoba menyapa hati yang telah lama membatu. Di sanalah Adeline, sang ratu bunga salju, meluncur dalam kesunyian yang ia jadikan tabir tebal untuk masa lalunya yang menutup jiwa seperti es yang enggan mencair. Namun, Aralie datang seperti sinar senja yang tak kenal lelah. Ia tahu bahwa matahari selalu terbit dan tenggelam bukan untuk dipuji, tetapi untuk menemani. Ia sendiri ingin menjadi matahari bagi Adeline, sebagai kehadiran yang tetap, hangat yang perlahan meresap ke celah retak yang hampir tak terlihat. Dan ketika senja kembali jatuh, warna emasnya membelai hamparan putih dunia, seakan membisikkan bahwa ia berkuasa atas cairnya hati yang beku-bukan oleh panas, melainkan oleh kehadiran yang tak pernah pergi. Demikianlah Aralie berdiri, menunggu, menjaga, hingga suatu hari Adeline berani beranjak dari sudut terdinginnya untuk merasakan hangat yang menyeruak kembali.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Nakula
  • Salah Status
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Prahara Lamaran [END]
  • Kembang Desa (Hiatus)
  • Stand by Me (END+LENGKAP)

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines