CINTA SALAH SASARAN

CINTA SALAH SASARAN

  • WpView
    Reads 7,507
  • WpVote
    Votes 492
  • WpPart
    Parts 38
WpMetadataReadMatureComplete Tue, Feb 10, 2026
Echi (Haechan) diam-diam menyimpan rasa yang sudah dia pendam sejak lama pada teman masa kecilnya. Namun ternyata cinta tak semanis brownies coklat. Selain mendapat penolakan ternyata Echi juga mendapat pengkhianatan. Seorang malaikat tanpa sayap selalu ada di samping Echi, berperan sebagai pelipur lara Echi. Siapakah dia? Bagaimana nasib cinta Echi setelahnya?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • This Is Crazy Love
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Chasing Sanara
  • Beautiful pain [Haechan Story‼️]BL
  • MAHKOTA [MARKHYUCK]
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • SOUR DIARY (MarkHyuck)
  • my cold husband
  • Nala dan Mas Juragan
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • Mas supir angkot (Markhyuck)
  • De Andere Weg (END)
  • The Last Yes!
  • The Villain Mother
  • Reinƙׁׅɑׁׅꭈׁꪀɑׁׅׅ꯱ꪱׁׁׅ Dυׁׅɑׁׅ  𝐉ιωα
  • The Idea Of You
  • The Crimson Core
  • Almost Married (END)
  • Secretary Escape [Markhyuck]

🔞⚠️Note: Cerita ini 21+ ya. Isinya untuk dewasa, mohon bijak dalam membaca. ****** Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines