Pulau Laksana, pulau mewah yang terbuka untuk umum namun hanya mampu dijangkau oleh kalangan elit, selalu berubah menjadi pusat kemegahan ketika libur tahun baru tiba. Yacht mahal berlabuh berdampingan dan resort-resort eksklusifnya terisi penuh oleh keluarga kaya dari berbagai kota.
Di tengah keramaian itu, kedatangan tiga belas anak dari komplek Ardana Hills menjadi sorotan tersendiri. Mereka adalah pewaris-pewaris muda dari keluarga bisnis terbesar di kota, sepuluh laki-laki dan satu-satunya perempuan yang menjadi perhatian semua orang.
Perjalanan menuju pulau itu awalnya tenang. Laut terlihat jinak, angin malam lembut, dan kapal pribadi dari anak Ardana Hills bergerak mulus menembus gelombang.
Di pertengahan perjalanan, sebuah keributan kecil terjadi di dapur kapal. Salah satu koki, ditemukan tersungkur di lantai dengan tubuh yang bergetar keras. Nadinya cepat, kulitnya memucat, dan dari lengan kirinya tampak jelas bekas gigitan-gigitan kecil namun dalam, berbentuk gerigi seperti gigi hewan pengerat.
Tikus.
Di kapal mewah sekelas itu, tikus tidak seharusnya ada.
Dalam hitungan menit, kondisi tubuh koki itu memburuk. Urat-urat di lehernya menegang, kulit di sekitar gigitan berubah menghitam, dan seluruh tubuhnya bergerak tak beraturan seperti dilanda kejang yang tidak pernah berhenti. Kru kapal berusaha mengurungnya di ruang medis sementara dan, menunggu dokter bisa menanganinya begitu mereka tiba.
Saat kapal itu akhirnya mencapai Pulau Laksana, pulau tersebut tampak normal. Ramai. Cerah. Dipenuhi lampu-lampu pesta dan suara musik dari resort. Tidak ada tanda bahwa ada sesuatu yang salah.
Dan tanpa mereka sadari, kejadian kecil di kapal itu bukanlah kecelakaan biasa.
Bukan kebetulan.
Melainkan pintu pertama menuju rangkaian peristiwa yang akan membuat Pulau Laksana menjadi tempat yang tak akan pernah mereka lupakan, bukan sebagai surga liburan, tapi sebagai awal dari mimpi buruk yang tak bisa mereka tinggalkan.
All Rights Reserved