Di mata banyak orang, Angkasa Zephyr Montrevail adalah definisi sempurna dari sosok laki-laki yang sulit disentuh. Tegas, dingin, dan berwibawa, namanya menggema di lorong-lorong SMA Unggul Diponegoro sebagai ketua geng Calavers, kelompok paling berpengaruh sekaligus paling ditakuti di sekolah itu. Anak dari keluarga terpandang, Angkasa terbiasa berada di atas. Memimpin, memberi perintah, dan dihormati tanpa perlu meminta.
Namun tak banyak yang tahu, di balik tatapan tajam dan sikapnya yang tak tersentuh itu, ada sesuatu yang tidak pernah benar-benar utuh.
Angkasa menyimpan luka yang ia kubur terlalu dalam. Kehilangan yang datang tanpa aba-aba, meninggalkan ruang kosong yang tak pernah berhasil ia isi kembali. Ia tidak pernah benar-benar mencoba menyembuhkannya. Bukan karena tidak ingin, tetapi karena ia sudah terlalu lama hidup dengan rasa itu hingga tak lagi tahu bagaimana rasanya pulih.
Sejak saat itu, kepercayaannya pada manusia perlahan memudar.
Ia berhenti berharap. Berhenti membuka diri. Berhenti percaya bahwa seseorang bisa datang tanpa akhirnya pergi.
Dan sejak saat itu pula, Angkasa membangun dindingnya sendiri. Tinggi, tebal, dan nyaris tak tertembus. Ia menjauh dari apa pun yang berhubungan dengan perasaan. Menjadi lebih keras, lebih dingin, dan terlihat tak terkalahkan.
Hingga suatu hari, tanpa ia sadari, sesuatu mulai mengusik ketenangan yang selama ini ia jaga. Sesuatu yang tidak ia rencanakan. Dan untuk pertama kalinya, dinding yang ia bangun selama ini terasa tidak lagi sekuat dulu.
All Rights Reserved