Laluna dilahirkan bukan sebagai anugerah, melainkan sebagai sebuah kesalahan yang membawa kutukan.
Di tengah sempitnya rumah petak yang pengap, Laluna tumbuh dengan kulit yang sensitif dan hati yang rapuh, membawa beban ganda, ia adalah penyebab penderitaan ibunya saat hamil, dan kekecewaan ayahnya yang mendambakan anak lelaki. Setelah kelahiran adik lelakinya yang sempurna, Laluna menjadi target utama amarah. Pukulan adalah makanan, makian adalah nina bobo, dan tubuhnya yang kurus penuh bekas luka adalah peta bisu dari trauma yang ia tanggung sendirian.
Ia belajar satu kebenaran kejam dari mata orang tuanya, air mata tidak mendatangkan kasih, melainkan kemarahan. Terperangkap dalam isolasi dan perbandingan fisik yang menyakitkan dari kakaknya sendiri, Laluna menjadikan cahaya bulan sebagai satu-satunya saksi bisu, tempat ia berbisik tentang janji untuk melarikan diri dari takdir yang terkutuk.
LALUNA... Sebuah Elegi Luka Menganga adalah perjalanan emosional yang pedih tentang pencarian identitas dan penyembuhan. Namun, bagaimana ia bisa lari jika luka telah berakar begitu dalam, menjadi jantung kedua yang berdetak dengan irama ketakutan? Kisah ini adalah tentang ketahanan terberat, bertahan hidup dari orang-orang yang seharusnya mencintai kita, dan pertarungan melawan ingatan yang terus-menerus mencoba meyakinkan dirinya bahwa ia memang pantas untuk menderita.
ini tentang Biwa dan ambisinya untuk bikin papa dipatuk kobra
.
.
.
"Keluar."
"Kasih duitnya dulu."
"Tergantung apa yang mau kamu beli."
"Ular kobra. Biar papa di patuk sampe mati."
"Biwara!"
.
.
.