We are in Forty Days
"Sepuluh kepala, satu posko, dan 40 hari yang mengubah segalanya."
Apa jadinya kalau para 'Artis Kampus' yang biasanya sibuk mengejar prestasi, mendadak harus kumpul di satu kelompok akibat teledor dan telat daftar KKN?
Mandala Aksara tidak pernah menyangka bahwa proyek paling menantang dalam hidupnya bukanlah riset hibrida padi, melainkan memimpin sepuluh orang ajaib di Desa Sukamaju. Dari Candra sang anak sultan yang ingin memborong seluruh warung desa, Harsa si tukang gosip yang lebih tau isi hati orang dibanding pemiliknya, hingga Kalani sang perumus pasal-pasal hukuman piket.
Namun, tantangan terberat Mandala adalah Dwi Rizky Mahitala, sang Duta Merek kampus yang selama ini hanya bisa dipandangi lewat baliho depan gerbang, kini duduk tepat di depannya, dengan tatapan yang membuat Mandala lupa akan cara untuk bernapas.
Di antara debu jalanan desa dan aroma tanah basah, mereka menemukan bahwa KKN bukan sekadar angka di transkrip nilai.
Ada persahabatan yang terjalin saat mereka berebut jatah mi instan di tengah malam. Ada masalah yang pecah ketika ego masing-masing anak emas ini berbenturan dengan realitas hidup di desa. Ada gelak tawa yang meledak saat mereka tengah berkumpul bersama di bagian ruang tengah rumah. Dan tentu saja, ada percintaan yang mulai tumbuh secara sembunyi-sembunyi-disemai di antara rapat proker yang membosankan dan senja di pinggir sawah.
Desa Sukamaju adalah bukti sekaligus saksinya. Bahwa terkadang, hal-hal terbaik dalam hidup justru datang dari sebuah keterlambatan. "Sebab di sini ..., yang kami abadikan bukan hanya foto proker, tapi memori tentang bagaimana rasanya menjadi nyata."