When the Future Feels Impossible

When the Future Feels Impossible

  • WpView
    Reads 5
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Dec 10, 2025
Raut bahagia teman teman yang membicarakan universitas mana yang akan mereka pilih untuk menuntut ilmu yang lebih tinggi, menjadi topik utama belakangan hari ini. meski senyum diperlihatkan, disaat mereka secara bergilir bertanya, meminta timbal balik dari rencana masa depan mereka, aku hanya dapat berkata dengan raut wajah biasa bahwa " aku tidak kuliah, kayaknya aku libur dulu deh setahun " berbeda di wajah, berbeda juga dihati, teman teman ku bertanya, kenapa, mengapa, dan banyak hal lain mengenai topik kuliah itu, yang tidak kuambil kesempatan nya dalam waktu dekat ini. sejujurnya, siapa sih yang tidak mau menjalani hidup dengan lancar menuju karir masa depan yang gemilang? aku juga mau, namun sepertinya itu belum pasti, banyak faktor penghambat, dan hanya sedikit faktor pendukung. *cerita ini belum dipastikan akan dikembangkan lebih serius, karna ini hanya ketikan saat kesedihan terlalu sulit untuk dipendam🙏
All Rights Reserved
#583
universitas
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • INTROVERT ITU PACARKU [Seni Memahami Caka] || [ON GOING]
  • Boys In The Kost
  • CINTAKU NYANGKUT KE JURAGAN EMPANG (BXB)
  • Yang Mereka Panggil Si Cuek
  • TRANSMIGRASI SI PENIKMAT GOSIP (BL)
  • KELUARGA ATMODJO
  • Oneshot XingQiu/Qiu Harem
  • Sweet Home -Tentang Kita yang Memilih Tinggal NOMIN FT JISUNG
  • Transmigrasi ke Tubuh Antagonis

Masa kuliah Lima yang B aja berubah saat dia kena angin antah berantah hingga membuatnya merhatiin Caka terus-terusan. Cowok pendiam-teman sekelas yang selama ini bahkan nggak masuk daftar cameo dalam hidupnya. Nggak cukup disana. Semesta yang kadang kidding malah memperkenalkan mereka di ruang komputer gara-gara donat sialan yang bikin Lima kelabakan kayak ayam mau bertelur sembilan. Ganteng? Baik? Atau karena glowing paripurna sampai ada grup kampus buat penelitian kulit Caka? Enggak! Lima nggak mikirin semua itu waktu pertama kali berhadapan dengan Caka sedekat itu. Justru manik leher Caka yang membuatnya ternganga lupa kalau cowok itu bukan siapa-siapa. Anehnya, sejak kejadian ruang komputer itu, kebetulan-kebetulan lain muncul seperti semesta merestui interaksi kecil mereka. Sampai puncaknya, gara-gara mulut lemes Sora, lidah Lima malah kepleset ngajakin Caka pacaran. Nggak ada briefing. Nggak ada persiapan. Semuanya serba tiba-tiba kayak tahu bulat di goreng dadakan. Awalnya pesimis, cowok itu bakal nolak dia dilihat dari kepribadiannya dalam kelas. Tapi nyatanya Caka bilang 'Ya'. Dan dari satu kata 'ya' itu, hubungan seorang Lima yang cerewet, neting-an dan posesif dengan Caka yang kalem, lempeng, lurus-lurus aja, dimulai.

More details
WpActionLinkContent Guidelines