Rara melanjutkan hari-harinya bersama Jo, Centia, dan Chatrin setelah kedekatan baru yang tercipta di antara mereka. Hubungan mereka tumbuh bukan hanya dalam kedekatan fisik, tetapi juga dalam kepercayaan, rasa aman, dan dinamika emosional yang semakin kompleks.
Kehidupan Rara pun berubah dari hari-hari yang sederhana menjadi rangkaian tantangan baru-tentang kepercayaan, batas emosi, kecemburuan yang samar, serta dinamika kedekatan yang menuntut kendali diri. Bersama Jo, Centia, dan Chatrin, ia mulai memahami bahwa hubungan mereka bukan sekadar rasa suka atau ketertarikan, melainkan sebuah ruang aman tempat masing-masing dapat menjadi diri sendiri.
Namun perjalanan tidak berhenti di situ. Jo kemudian memperkenalkan sebuah permainan baru-tantangan yang jauh lebih besar bagi Rara. Kali ini, ia tidak hanya berhadapan dengan Jo, Centia, dan Chatrin, tetapi juga dua sosok lain yang menguji kenyamanannya: Tian, teman satu circle "Party Family" yang misterius namun menawan; dan Richard, teman Jo yang dulu pernah mendekatinya, meski tidak pernah ia tanggapi.
Hubungan yang semula berada dalam lingkaran kecil kini berkembang menjadi permainan yang lebih kompleks-menuntut Rara untuk lebih jujur pada dirinya, menghadapi masa lalu, dan menentukan posisi di antara orang-orang yang semakin dekat dengannya.
Di tengah semua itu, Rara harus menjawab pertanyaan terbesar: Sejauh mana ia rela terlibat dalam dunia Jo? Dan mampukah kedekatan yang mereka bangun tetap menjadi ruang aman bagi semua orang-termasuk dirinya sendiri?
Area 🔞🔥
Bijak dalam membaca!
___
"Kenapa berhenti memancingku, hm?"
"M-Maaf, prof."
"Buat lagi, Atha. Bukankah ini, yang kau inginkan? Suka dengan sentuhanku?"
Atha menelan ludah kasar, tak menyangka jika pancingannya pada sang dosen justru disambut balik oleh dosennya tersebut. Bahkan, jauh lebih panas.
___
Profesor Edward Colins, merasa terganggu dengan godaan mahasiswi nakalnya. Athanasia, gadis nakal penyuka pria matang tampan mempesona seperti Profesor Edward. Gadis itu, mencoba menggoda sang dosen. Namun siapa sangka, justru disambut balik dengan lebih panas oleh Edward.