9 bab Bersambung Malam itu, hujan turun secara perlahan, seolah menggantung di udara. Di ruang tamu rumah Bimantara, enam bersaudara duduk melingkar tanpa tahu bahwa malam itu akan jadi malam itu akan jadi malam terakhir mereka terjaga.
"Aneh, hujannya kok warna biru ya," gumam Rakyan.
"Itu efek lampu kota mungkin dek," jawab Raka datar.
Yasya menguap. "Halah bomat yang penting besok gak hujan, aku ada latihan."
"Latihan ngelawak, Mas ?" ledek Jagat, membuat yang lain tertawa kecil.
Saka menatap butiran hujan di tangannya. Aneh, air itu tidak menghilang meski ia tiup pelan.
"Kak Samu, liat ini deh."
Saat Samuel mendekat, butiran itu menyala biru dan mengembang, mengisap udara di sekitarnya. Kantuk aneh mulai menyelimuti mereka.
"Eh kok ngantuk banget ya..." bisik Yasya sebelum rebahan.
Samuel mencoba melawan, tapi dunia memudar jadi kabut biru.
Sebelum gelap menelan semuanya, terdengar bisikan Saka,
"Tenang aja, Kak. Di sini kita bisa mimpi selamanya."
...
Saat Samuel membuka mata, langit berwarna ungu muda. Rumah mereka lenyap. Di ujung jalan, berdiri sesosok yang sedang menangis.
"Raka ?" panggilnya.
Namu saat menoleh, wajah itu adalah miliknya sendiri, pucar, kosong dan tersenyum.
"Selamat datang di dunia mimpi yang tak bisa kau tinggalkan."
...
Apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga Bimantara malam itu ?
Apakah mereka tertidur atau terperangkap di mimpi mereka sendiri ?