Cerita dari Tahun 2017.
Angin pagi berhembus lembut melewati celah-celah rumah kayu tua itu. Di beranda kecil yang selalu berderit setiap kali diinjak, berdirilah seorang anak laki-laki bernama Jewo Malik Rahman. Usianya baru sembilan tahun, namun sorot matanya menyimpan kisah yang jauh lebih dewasa dari angka itu. Ia adalah seorang yatim piatu, dan satu-satunya keluarga yang ia miliki kini hanyalah seorang perempuan renta yang selalu tersenyum meski tubuhnya semakin rapuh: Embah Siti.
Setiap hari mereka menjalani hidup sederhana di sebuah kampung kecil yang tenang, di mana suara ayam jantan dan aroma tanah basah menyambut pagi. Jewo tumbuh bukan dari keluarga utuh dan berada, melainkan dari kasih sayang Embah yang tidak pernah habis.
Ramadhan tahun itu terasa berbeda. Ada sesuatu yang menggerakkan hati Jewo, membuatnya ingin lebih memahami arti kehilangan, arti syukur, dan arti keluarga. Embah Siti sering berkata, "Gusti ora sare, Le. Selama kamu tetap baik, langit bakal njaga awakmu." Kalimat itu melekat dalam ingatan Jewo.
All Rights Reserved