Bulan di balik Tirai

Bulan di balik Tirai

  • WpView
    LECTURAS 37
  • WpVote
    Votos 3
  • WpPart
    Partes 5
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación vie, mar 6, 2026
Ini bukanlah kumpulan puisi, bukan kumpulan syair, bukan kumpulan mantra, atau bahkan soneta. Ini hanyalah celotehan si gadis kerdil, yang terbelenggu dalam perihal tak adil. Dunia bagiannya terasa begitu dingin dan asing. Tidak ada tempat di mana ia benar-benar diterima. Namun sastra, seakan mengulurkan tangan padanya. Menuntunnya untuk mencurahkan semua yang berdesakkan di dalam kepala, menjadi sebuah karya. Ia menatap tirai lusuh yang terbentang di dalam jendela kamarnya. Di tengah heningnya malam bait-bait frasa menari, bergemuruh dalam imaji. Sepasang matanya berbinar saat menatap cahaya rembulan di balik tirai. Cahaya itu semakin membuatnya terhanyut, dalam keheningan yang begitu ramai. Indah, dan damai. Akan tetapi, ia tidak menyadari bahwa cahaya itu bukan berasal dari sinar rembulan, namun berasal dari kuningnya lampu bohlam. Terima kasih jika menemukan celotehan ini dan berkenan untuk membacanya. -Fh. Febriani.
Todos los derechos reservados
#519
rembulan
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • 365 HARI BERCINTA DENGAN PUISI
  • Rembulan Yang Sirna
  • Ruang Persinggahan
  • kumpulan cerpen kookmin/Jikook (book 2)
  • Sebaris Rasa Untuk Tuan
  • Pikul Pilu Pada Pulangmu
  • အချစ်၏ဟန်ပန်-𝑻𝒉𝒆 𝑺𝒕𝒚𝒍𝒆 ���𝑶𝒇 𝑳𝒐𝒗𝒆(Complete)
  • My Wish
  • My SIN (GXG iam Lesbian)
  • PEREMPUAN GILA

Aku tidak menulis ini untuk semua orang. Hanya untuk kamu- yang pernah merasa hilang, tapi bahkan tidak tahu ke mana harus pulang. 365 hari. 365 puisi. Tanpa jeda. Awalnya, ini hanya tentang menulis... lalu selesai. Tapi semakin jauh, aku mulai sadar- seperti ada sesuatu yang ikut menulis bersamaku. Sesuatu yang lebih jujur tentang luka daripada yang berani kita akui. Kalau kamu pernah: • tersenyum, tapi kosong • dikelilingi banyak orang, tapi tetap sendiri • atau hidup... tanpa benar-benar merasa hidup hati-hati. Buku ini bisa terasa terlalu dekat. Di dalamnya ada: luka yang tak sempat diberi nama, rindu yang kehilangan alamat, dan doa-doa yang hanya berani hidup dalam diam. Ini bukan sekadar tulisan. Ini jejak. Atau mungkin... pengakuan. Beberapa orang bilang, ada bagian yang terasa seperti ditulis khusus untuk mereka. Kebetulan? Atau... kamu yang memang sedang dipanggil? Mulai dari hari pertama. Kalau tidak ada yang kamu rasakan, kamu bebas pergi. Tapi kalau kamu memilih untuk tetap tinggal- bersiaplah. Karena mungkin, yang perlahan berubah bukan kata-katanya... melainkan kamu.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido