Ini bukanlah kumpulan puisi, bukan kumpulan syair, bukan kumpulan mantra, atau bahkan soneta. Ini hanyalah celotehan si gadis kerdil, yang terbelenggu dalam perihal tak adil. Dunia bagiannya terasa begitu dingin dan asing. Tidak ada tempat di mana ia benar-benar diterima. Namun sastra, seakan mengulurkan tangan padanya.
Menuntunnya untuk mencurahkan semua yang berdesakkan di dalam kepala, menjadi sebuah karya.
Ia menatap tirai lusuh yang terbentang di dalam jendela kamarnya. Di tengah heningnya malam bait-bait frasa menari, bergemuruh dalam imaji. Sepasang matanya berbinar saat menatap cahaya rembulan di balik tirai. Cahaya itu semakin membuatnya terhanyut, dalam keheningan yang begitu ramai. Indah, dan damai. Akan tetapi, ia tidak menyadari bahwa cahaya itu bukan berasal dari sinar rembulan, namun berasal dari kuningnya lampu bohlam.
Terima kasih jika menemukan celotehan ini dan berkenan untuk membacanya.
-Fh. Febriani.
Todos los derechos reservados