· · ─── ୨୧ ─── · ·
Sejak awal, hidup tidak pernah memberinya tempat untuk pulang.
Ia tumbuh di ruang-ruang yang terlalu sunyi untuk anak seusianya. Belajar cepat tentang diam, tentang bagaimana tidak mengganggu, tentang menelan perasaan agar tidak merepotkan siapa pun. Tidak ada yang benar-benar mengajarinya cara meminta, jadi ia berhenti berharap.
Hari-harinya berjalan tanpa tanda. Bangun, bertahan, tidur, mengulang. Tidak ada yang bertanya bagaimana rasanya hidup dengan dada yang selalu berat, seolah ada sesuatu yang tertinggal tapi tak bisa disebutkan namanya.
Ia terbiasa menyembunyikan luka.
Bukan karena ingin terlihat kuat,
melainkan karena setiap kali ia jujur, dunia berpaling darinya.
Pelukan adalah sesuatu yang asing. Bukan karena ia tidak membutuhkannya, tapi karena ia tidak tahu bagaimana cara menerimanya tanpa merasa bersalah. Maka ia belajar memeluk dirinya sendiri-pelan, canggung, sambil berharap suatu hari rasa itu tidak terasa memalukan.
Ada malam-malam di mana ia duduk sendirian, menatap kosong kelangit, bertanya-tanya apakah hidup memang seharusnya seperti ini. Sepi. Panjang. Tidak ada suara yang memanggil namanya dengan tulus.
Ia tidak tahu ke mana hidup akan membawanya.
Ia hanya tahu satu hal:
luka-luka itu belum sembuh-dan tidak ada siapa pun yang datang untuk menenangkan.
Dan dari sunyi itulah, ia melangkah.
Bukan dengan harapan,
melainkan dengan luka yang ikut hidup bersamanya, luka yang ia sendiri tidak tahu kenapa dia harus mendapatkannya.
· · ─── ୨୧ ─── · ·
Todos los derechos reservados