SISA LUKA DI KOTA BANDUNG(ON GOING)

SISA LUKA DI KOTA BANDUNG(ON GOING)

  • WpView
    Reads 4,546
  • WpVote
    Votes 337
  • WpPart
    Parts 42
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jul 23, 2026
WpInfo
Fiction
Romance
Bad Boy
Love Triangle
Highschool
"Aku bukan dia. Tapi kenapa, semesta terus memaksaku untuk menjadi tiruan yang bahkan tak pernah aku inginkan?" Di mata keluarga Darendra, Aksara Zayyan Darendra (17 tahun) hanyalah sebuah kesalahan yang harus diperbaiki. Ia tumbuh dalam bayang-bayang ketidakdianggapan, seolah keberadaannya hanyalah udara kosong yang tak layak disentuh. Semua berpusat pada Harsa Arkabumi Darendra (20 tahun), sang Kakak yang sempurna. Harsa adalah definisi sukses: pintar, berprestasi di berbagai olimpiade, dan menjadi golden boy kebanggaan keluarga. Sementara Aksara? Ia kebalikannya. Urakan, hidupnya penuh dengan gesekan kenakalan remaja, dan hanya menemukan ketenangan dalam bunyi senar gitar serta deru mesin motor bersama gengnya. Setiap tatapan, setiap kata, setiap perbandingan yang menusuk, seolah melukiskan di dinding hatinya: Kau tidak cukup. Kau harus menjadi seperti Harsa. Namun, di tengah puing-puing hati yang terluka, Aksara menemukan jangkar kecil yang menahannya dari kehancuran total. Naya Inara Xavellyn, sang adik kecil yang polos, adalah alasan Aksara harus tetap bernapas dan tersenyum-walaupun hanya tipuan. Ketiga sahabatnya yang menerima dia apa adanya, menjadi pelabuhan di saat badai keluarga menerjang. SISA LUKA DI KOTA BANDUNG bukan hanya tentang kisah remaja dan geng motor. Ini adalah cerita realistis tentang perjuangan seorang anak yang berusaha menemukan jati dirinya di tengah tuntutan kesempurnaan yang mencekik. Tentang luka batin yang menganga, tentang keluarga yang buta akan kasih sayang tulus, dan tentang arti bertahan demi orang-orang yang melihat cahayanya, bukan bayangannya. Bisakah Aksara bertahan tanpa kehilangan dirinya sendiri? Atau akankah luka itu menelannya hingga ia benar-benar menghilang? Ikuti kisah Aksara, di mana setiap goresan luka menjadi sebuah tulisan yang membentuk takdirnya.
All Rights Reserved
#459
jayenhypen
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • The Last Yes!
  • The Mafia's Sinful Obsession
  • Sweetly Tied
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • GARWO KINASIH SANG DALANG (DELETE SEBAGIAN)
  • Mulih (END)
  • EINSTEIN [END]
  • Círculo del Destino

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines