We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Bulan Terakhir

Bulan Terakhir

  • WpView
    Reads 8,688
  • WpVote
    Votes 1,117
  • WpPart
    Parts 21
WpMetadataReadMatureComplete Sun, Aug 2, 2026
WpInfo
Fanfic
"Cukup, Yerine!. Gua capek sama semua tingkah lu!" Kalimat itu sudah entah berapa puluh kali terdengar di telinga Yerine Yaputeri Rembulan. Sampai ia terbiasa mendengarnya-meski rasa itu tak pernah benar-benar mati. Perasaannya pada Joline Cahya Vanesa tetap berakar, keras kepala, dan menolak hilang. Joline adalah gadis jangkung berparas cantik, dengan mata sayu yang selalu mampu memabukkan siapa pun yang beradu pandang dengannya. Ia antisosial. Lingkar pertemanannya bahkan tak pernah lebih dari tiga orang. Membaca buku, bermain gim, dan tenggelam dalam kesendirian adalah dunianya. Joline tak merasa membutuhkan siapa pun di sisinya, kehadiran orang lain justru kerap ia anggap sebagai gangguan bagi ruang pribadi dan ketenangannya. Berbanding terbalik dengan Yerine-gadis bermata runcing bak rubah. Ceria, riang, dan penuh tawa, seolah hidupnya tak pernah tersentuh luka sedikit pun. Namun, sebahagia apa pun seseorang terlihat, selalu ada luka yang disembunyikan rapat-rapat. "Gw tahu, Joline," ucap Yerine pelan. "Tapi cuma kamu satu-satunya sumber kebahagiaan aku..." #gxg #gl #fiksi #sliceoflife Harap laporkan jika menemukan cerita ini di tempat lain🙏
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Cupiditas Vitae [END]
  • Rewriting The Villain (END)
  • I'm Not Just a Figuran
  • KERSA NARENDRA
  • Given || Ju Jihoon
  • FRIEND'S? - KRATINGMEEN
  • Skripsi Dan Buku Nikah
  • Journey
  • ENEMY [Keonhyeon]
  • Love me or die

Rio hanya ingin hidup tanpa memperdulikan penolakan yang selalu mengikuti langkahnya. Hidup dioper dan dieksploitasi adalah bagian hidupnya. Harusnya ia sudah mati. Entah akhirnya akan tenang atau malah terjebak di dimensi yang lebih mengerikan daripada hidupnya sekarang. Tapi dia kembali membuka mata. Di dua bulan sebelum kematian datang menjemputnya. Waktu terlalu singkat. Rio memutuskan dengan cepat. Dia masih punya kesempatan untuk lari dan hidup, kan? Sebuah skenario yang janggal untuk sebuah ketidaksengajaan membuatnya bertemu dengan sahabat ayahnya, yang memberikan secercah harapan akan tempat berteduh yang aman. Rio tidak pernah punya harapan yang rakus. Ia hanya ingin bertahan hidup. Benar-benar tidak tahu bahwa kenyamanan juga memaksanya untuk terluka dan berlapang dada.

More details
WpActionLinkContent Guidelines