Pulang Tanpa Kamu adalah kisah tentang menunggu yang terlalu lama, tentang cinta yang pergi tanpa benar-benar berpamitan, dan tentang seseorang yang tertinggal di tempat yang sama, berharap waktu bersikap lebih ramah.
Puisi ini ditulis sebagai rangkaian catatan sunyi-empat puluh bab pendek yang merekam perjalanan batin seseorang dari kehilangan, penyangkalan, kelelahan emosional, hingga perlahan belajar berdiri kembali. Tokoh "aku" mencintai dengan sepenuh hati, menunggu tanpa janji, dan bertahan meski harapan kian menipis.
Di antara halaman-halamannya, pembaca akan menemukan luka yang tidak berteriak, kesedihan yang tidak selalu menangis, serta keberanian kecil untuk melepaskan tanpa membenci. Puisi ini tidak menawarkan kebahagiaan instan, melainkan penyembuhan yang jujur-pelan, dewasa, dan manusiawi.
Pulang Tanpa Kamu bukan tentang melupakan seseorang yang pergi, melainkan tentang memilih diri sendiri setelah terlalu lama menunggu. Tentang pulang ke dalam diri, membawa luka sebagai bagian dari cerita, bukan sebagai rumah.
All Rights Reserved